Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Duh, 967 Istri di Kudus Memilih Jadi Janda

MURIANEWS.com, Kudus – Perubahan zaman membuat pola hidup masyarakatnya juga berubah. Termasuk dalam hal berumah tangga. Pernyataan tersebut diungkapkan Panitera Pengadilan Negeri Agama Kudus Setya Adi Winarko.

“Pola hidup masyarakat berubah seiring berkembangnya zaman. Contohnya dalam hal perceraian,” ucapannya pada MURIANEWS.com.

Setyo menyebutkan, perubahan sangat terlihat dari pola perceraian yang terjadi di Kudus. Pergeseran permohonan cerai yang semula didominasi laki-laki yang kini berubah jadi pihak wanita juga mulai terlihat.

“Ada pergeseran pada angka perceraian, jumlahnya juga meningkat,” ujarnya.

Tercatat, ada 967 kasus cerai gugat, atau cerai yang diajukan pihak istri kepada suami yang diajukan ke Pengadilan Agama Kudus. Angka perceraian di Kudus sendiri pada tahun 2018 mencapai 1.327 kasus. Sedangkan cerai talak berjumlah sisanya.

“Angka yang cukup tinggi untuk sekelas Kudus yang adem ayem, biasanya ada di angka seribu lebih sedikit,” tambahnya.

Perkembangan zaman, akses informasi yang tercukupi, serta mulai sadarnya wanita akan hak-haknya jadi latar belakang awal terjadinya perceraian.

“Mereka meresa dirugikan terkait satu dua hal,” jelasnya.

Sedangkan alasan utama pihak wanita menggugat cerai suaminya adalah terkait perlakuan suami terhadap mereka. Kekerasan dalam rumah tangga, nafkah yang tidak dicukupi, serta berbagai alasan lain jadi faktor penguat pihak wanita dalam menggugat suaminya.

“Tak lupa masalah klasik seperti faktor ekonomi, dan perselingkuhan jadi penyebab perceraian,” terangnya.

Hal-hal tersebut sebenarnya bisa diatasi. Setya mengungkapkan, komunikasi harus terus dijaga. Setya juga mengimbau kepada seluruh pasangan suami istri yang ada di Kudus, jika ada masalah sebaiknya dikomunikasikan terlebih dahulu. Saling memahami satu sama lain serta tidak gegabah dalam mengambil tindakan adalah tindakan pencegahan.

“Nikah itukan berdua jadi satu, jadi saling memahami satu sama lain itu perlu supaya kalau ada masalah bisa diselesaikan secara baik-baik,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...