Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Penelitian Balar Ungkap Jejak Medang Kamulan di Banjarejo Grobogan Sudah Berinteraksi dengan Tiongkok

MURIANEWS.com, Grobogan – Penelitian yang dilakukan tim Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mulai disosialisasikan pada masyarakat. Yakni, mulai dari adanya penemuan ratusan pecahan tembikar dan keramik dalam kotak ekskavasi dan budaya kemaritiman di Selat Muria yang telah lama hilang.

Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto mengatakan, keberadaan Selat Muria yang jadi aktivitas kemaritiman itu ada pada zaman sebelum abad ke-17. Seiring perjalanan waktu, selat tersebut kemudian berubah menjadi daratan akibat endapan lumpur yang terjadi setelah abad ke-17.

Dijelaskan, dalam beberapa jurnal di Tiongkok, sedikitnya ada dua kerajaan yang sebelumnya memanfaatkan Selat Muria sebagai lalulintas perdagangan. Yakni Kerajaan Holing atau Kalingga dan Kerajaan Shepo.

Di samping itu, tidak tertutup kemungkinan Kerajaan Medang Kamulan dulunya juga ikut memanfaatkan Selat Muria sebagai sarana perdagangan. Hal itu dikuatkan dengan adanya Sungai Medang di Desa Banjarejo yang menyambung ke Sungai Lusi. Kondisi inilah yang menjadi salah satu kunci penelitian yang dilakukan.

“Dari temuan yang sudah ada, memang ada indikasi ke arah sana. Seperti ditemukannya keping koin dari kerajaan China, tembikar, dan pecahan keramik. Dengan demikian, peradaban klasik di Desa Banjarejo ini sudah berinteraksi dengan dunia luar. Salah satunya dengan berdagang menggunakan moda transportasi sungai,” katanya.

Menurut Sugeng, keberadaan sungai di masa lampau punya peranan sangat penting. Tidak hanya jadi sumber air untuk memenuhi kehidupan, keberadaan sungai juga menjadi sarana menuju ke pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di kawasan pantai.

“Sebagai contoh adalah Kerajaan Holing yang bisa mengekspor hasil pertanian. Mereka pastinya mendapatkan komoditas itu di pedalaman-pedalaman dan mengirim melalui sungai-sungai menuju pelabuhan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Banjarejo Achmad Taufik mengatakan, pihaknya mengapresiasi adanya kegiatan penelitian dari Balar Yogyakarta yang dijadwalkan berlangsung hingga 7 April 2019 mendatang tersebut. Dia berharap hasil dari penelitian nanti bisa membuka wawasan bagi warga Banjarejo dan bisa menjadi bahan rujukan akademis.

“Dari penelitian ini, sudah banyak hal yang bisa kita dapatkan. Saya berharap, penelitian ini nanti berjalan lancar dan bisa mengungkap tabir sejarah masa lalu yang ada di Banjarejo,” katanya.

 

Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...