Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Trowelo yang Angker, Dulunya Tempat Mengintai Penjajah Hingga Pembantaian Belanda 

MURIANEWS, Pati – Tikungan Trowelo, Jalan Pati-Gembong tepatnya di Desa Wonosekar, Kecamatan Gembong, Pati, ternyata mempunyai sejarah panjang. Dipercaya, dulunya menjadi tempat pengintaian para tentara untuk melawan penjajah Belanda.

Disinyalir, karena itulah kemudian tikungan tersebut dinamakan Trowelo yang merupakan singkatan dari cetho welo-welo yang artinya ”terlihat sangat jelas”. Hal itu diungkapkan oleh Sarni (89) warga Desa Ngembes, Kecamatan Gembong yang merupakan saksi sejarah.

“Tentara Jawa, dulu melakukan pengintaian di sini (Trowelo). Ketika penjajah datang, mereka langsung disergap dan dibunuh secara bersama,” katanya.

Diungkapkan pula, pada tahun 1940 an, tinggi lahan di sekitar Trowelo sekitar 30 meter dari tinggi yang saat ini. Bisa dikatakan, Trowelo merupakan pintu gerbang yang berupa perbukitan menuju wilayah Kecamatan Gembong hingga ke Pegunungan Muria.

Mbah Sarni nampak membajak di lahan kawasan Trowelo. (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)

 

Sementara pada saat penjajahan Belanda itu, banyak masyarakat Pati yang mengungsi ke daerah perbukitan, terutama di Gembong. Tak ayal, penjajah pun melancarkan aksinya di wilayah Gembong. Berbagai harta benda dijarah oleh penjajah, tak sedikit pula warga yang dibunuh.

“Kalau penjajah datang, warga langsung lari mencari tempat persembunyian. Itu dilakukan secara terus menerus. Tetapi, warga bersama para tentara Jawa kemudian menghadang para penjajah, tepat di tikungan Trowelo tersebut,” ungkapnya.

Penjajah yang berhasil ditangkap, kemudian dibunuh oleh tentara dan dimakamkan sekitar 500 meter ke selatan dari Trowelo.  Ada ratusan lebih yang sudah dimakamkan di situ.

“Kejadian itu kira-kira tahun 1940, saya sendiri saat itu masih kecil dan sering ikut orang tua membajak di lahan di sebelah selatan Trowelo. Tetapi ketika ada penjajah, saya langsung disuruh pulang,” ujarnya.

Setelah para penjajah dibantai, warga yang berada di kawasan Gembong kemudian merasa aman. Aktivitas pun kembali normal. Namun, itu tidak berlangsung lama.

Baca: Menyibak Tabir Mistis Tikungan Trowelo Pati, Pohon Karet Angker Tak Ada yang Berani Nebang

Usai penjajah Belanda dihabisi, datang kemudian penjajah Jepang yang diakunya lebih keras. Warga yang tertangkap, diberikan pelatihan perang menggunakan tongkat.

Tak tanya itu, semua harta benda juga dirampas. Yang tidak memberikan, maka akan dihukum hingga dibunuh.

“Saya sendiri waktu itu masih merasakan, bagaimana bentuk penjarahan yang dilakukan Belanda maupun Jepang,” terangnya.

Ketika sudah memasuki kemerdekaan dan para penjajah ke luar dari wilayah Gembong, masyarakat kemudian bisa bernafas dengan lega. Seiring berjalannya waktu, Trowelo yang merupakan perbukitan, dikeruk menggunakan alat berat hingga rata. Dan saat ini menjadi jalan umum yang bisa digunakan masyarakat.

“Kalau angkernya memang dimulai dari situ (Saat penjajahan). Mungkin karena banyak pembantaian dan peperangan di wilayah Trowelo ini, sehingga sampai saat ini masih ada arwah yang menjadi penunggu Trowelo,” pungkasnya.

 

Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...