Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Jagong Gusjigang, Begini Arti Banyu Panguripan Urip lan Urup di Menara Kudus

MURIANEWS.com, Kudus – Panitia Ta’sis (ulang tahun) Masjid Al-Aqsha Menara Kudus menggelar Jagong Gusjigang “Banyu Panguripan, Urip lan Urup” di gedung Menara, Minggu (24/3/2019) malam. Acara ini juga merupakan serangkai dari rangka Ta’sis Menara Kudus. Pada diskusi itu, para pembicara dan peserta mengupas “Banyu Panguripan, Urip lan Urup” dalam sebuah buku “Kosmologi Banyu Penguripan”.

Dari pantauan di lapangan puluhan masyarakat dari berbagai kalangan turut hadir dalam acara diskusi buku tersebut. Selain itu juga ada dua narasumber sebagai pembicara, yakni Abdul Jalil dan M. Jadul Maulana.

Abdul Jalil mengatakan, dari sekian bangunan bersejarah di Bumi Nusantara, Menara Kudus memiliki kekhasan tersendiri. Situs sebesar Borobudur, Prambanan, dan Kuil Sam Poo Kong dibangun atas dasar satu agama.

Sementara Menara Kudus mencerminkan semangat multietnis multireligi. Bangunan Menara Masjid al-Aqsha bentuknya menyerupai bangunan candi. Atapnya bergaya arsitektur Islam, dan lubang pancuran tempat wudlunya berornament kepala arca ala Budha.

“Itu ada sejak zaman Sunan Kudus. Betapa tolerasnsinya di Kudus ini. Kemudian penghormatan kepada sapi. Di Kudus bentuk toleransi lain, yakni masyarakatnya tidak menyembelih sapi,” terangnya.

Ia mengatakan, selain itu, ada bentuk toleransi lain dari Sunan Kudus yang jarang diperbincangkan. Yakni tentang banyu panguripan. Ini menjadi isu, menjadi folklore, benar dan salahnya tidak ada yang melakukan penelitian.

“Maka dari itu, kami bersama-sama dengan teman lainnya untuk memberanikan mencoba mencari tahu tentang energi ada apa dengan banyu panguripan,” jelasnya.

Pertama, ia menyebutkan ada definisi tentang air. Yakni disebut dengan banyu dan tirtha. Disebut dengan banyu, fungsi air sebagai fungsi sosial, seperti pengairan sawah. Sedangan disebut dengan tirtha berfungsi sebagai kepentingan peribadahan.

Kedua adanya banyu ini apakah ada atau tidak. Menurutnya secara penelitian, secara fisik ada. Letaknya di bawah menara. Datanya ada dua. Cerita folklore dari Kiai Khoirizyad (alm).

Kiai kharismatik itu dulunya sewaktu kecil sering bermain di sekitar menara. Serta mengetahui, bahwa di kawasan menara ini terdapat banyu penguripan.

“Kemudian dari cerita modernya tiga tahun lalu. Menara ini kami keduk muter diameter satu meter. Pengedukan ini dilakukan karena adanya getaran jalan yang ditimbulkan kendaraan lewat. Biar tidak terdampak getaran kendaranaan, maka kami keduk. Pada saat kedalaman 120 cm, yang mengeduk tidak berani. Karena menemukan air yang banyunya wangi,” terangnya.

Lebih lanjut, untuk mempertegas semangat multietnis dan multireligi, Kangjeng Sunan Kudus melangkah ke arah kohesi sosial. Sebagai ketua asosiasi dagang Kerajaan Demak, Sunan Kudus memahami benar bahwa ketergantungan masyarakat terhadap air sebagai sumber penguripan.

“Masyarakat di samping membutuhkan air untuk kebutuhan sehari-hari, juga membutuhkan tirtha untuk instrumen persembahyangan. Oleh karena itu dibuatlah “Banyu Penguripan” di Menara dengan fungsi yang relatif sama dengan keyakinan masyarakat,” ujarnya.

Perkembangan selanjutnya, di setiap wilayah muncul tokoh dari pengikut Sunan Kudus dengan kekuatan simpulnya sendiri, membangun daerah dengan kekhasan masing-masing. Namun tetap nyambung dengan sel utamanya di Menara.

Jika di Menara Kudus memiliki air suci yang disebut “Banyu Penguripan”. Maka di berbagai wilayah ditemukan Belik dan Sendang yang juga memiliki “air suci” yang difungsikan untuk fungsi ibadah dan fungsi sosial lainnya.

Di samping air, masyarakat Hindu saat itu sangat mengistimewakan sapi karena menjadi kendaraan Dewa Krisna. Begitu terhormatnya sapi, sampai disejajarkan dengan 7 ibu yang wajib dihormati, yakni ibu kandung, ibu pertiwi, istri guru, istri brahmana (varna-brahmana), istri raja, dan perawat.

“Melihat begitu istimewanya sapi, maka Kanjeng Sunan Kudus melarang menyembelih sapi, walaupun dalam Islam halal. Demikian pula sebaliknya, arak (minuman keras) juga dilarang untuk dikonsumsi seluruh masyarakat karena haram menurut Islam dan “halal” menurut adat Hindu,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...