MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Umurnya Hampir Seabad, Mbah Binah Setia Jualan Wayang Tiap Malam Jumat Kliwon

0 463

MuriaNewsCom, Semarang- Bagi para seniman atau warga umum yang biasa nyambang di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), sosok nenek ini mungkin sudah tak asing lagi. Nenek yang umurnya hampir setengah abad, ini selalu muncul di TBRS setiap malam Jumat Kliwon.

Tiap malam Jumat Kliwon itu, Mbah Binah menggelar berbagai tokoh wayang kulit untuk dijual kepada pengunjung. Maklum saja, setiap malam Jumat Kliwon di TBRS memang selalu diselenggarakan pertunjukan wayang kulit.

Mulai dari tokoh-tokoh Pandawa, seperti Bima, Arjuna, atau Punakawan, seperti Bagong, Gareng dan lainnya, komplit. Aktivitas ini sudah ia jalani selama puluhan tahun, sejak suaminya Arjp Sakiyo masih hidup.

Selama ini Mbah Binah tidak pernah absen dari pagelaran wayang kulit dilakukan setiap selapan (35 hari sekali) oleh Teater Lingkar itu. Padahal, pagelaran wayang kulit malam Jumat Kliwon itu pertama kali digelar tahun 1992 silam.

“Kalau jam empat sore, saya belum datang, pasti Pak Ton (sapaan pendiri Teater Lingkar, Suhartono Padmo Sumarto) selalu tanya. Takutnya saya sedang sakit atau kenapa-kenapa,” ujarnya.

Mbah Binah yang tinggal di Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang itu, kini sudah punya 23 buyut, dan setiap kali berjualan ke TBRS selalu diantar anaknya. Jika anak-anaknya tengah sibuk, ia akan menumpang becak motor.

Aktivitasnya menjual wayang kulit ini meneruskan usaha sang suami. Selain berjualan tiap malam Jumat Kliwon di TBRS, Mbah Binah juga punya lapak di lantai dua Pasar Burung Karimata. Selain itu, dia kerap menjajakan dagangannya di depan RRI Semarang, tiap kali ada pagelaran waryang.

Mbah Binah mengaku mendapatkan pasokan wayang dari perajin asal Kota Solo. Untuk jenis wayang berbahan kulit dia jual seharga Rp 150 ribu- Rp 200 ribu. Ada juga wayang berbahan kertas dengan banderol lebih murah, kisaran Rp 50 ribu. Harga tersebut tergantung ukurannya.

“Sekali pengiriman dari Solo itu keluar uang Rp 2 juta. Waktunya enggak tentu. Karena setiap kali berjualan kan enggak mesti ada yang beli wayang. Kan sering juga satu tokoh wayang pun enggak laku terjual,” katanya.

Meski mengaku umurnya sudah hampir seabad, nenek ini tetap setia berjualan wayang. Apalagi ia mengaku tak mau mengecewakan para pelanggannya.

Dalange apik-elek (bagus atau jelek), dagangane payu mboh ora (laku atau tidak), pokoke tetep mangkat (pokoknya tetap berangkat). Yen ora, aku digoleki langgananku (Kalau tidak berjualan nanti dicari pelangganku),” pungkasnya.

 

Penulis: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.