MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

DPRD Jateng Minta Politikus Tak Goreng Isu SARA Pemicu Konflik di Tahun Politik

0 48

MuriaNewsCom, Semarang – Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah, Amir Darmanto masyarakat maupun para politikus tak menggoreng isu SARA hanya untuk kepentingan pemilu. Ia mengharap para politikus mengedepankan cara berpolitik secara cerdas, santun dan berbudaya.

Ia mengaku merasa risau, lantaran akhir-akhir ini bertebaran isu SARA di media sosial. Ini menurut dia, rawan memicu konflik di masyarakat.

“Tahun ini adalah tahun politik, dan pertama kali pemilu dilakukan secara serentak untuk memilih anggota dewan maupun presiden. Beberapa kekhawatiran muncul di masyarakat terutama dampak-dampak negatif dari dinamika politik yang bisa merugikan prinsip kebhinekaan Indonesia,”katanya dalam siaran pers yang diterima MuriaNewsCom, Senin (18/3/2019).

Salah satu yang cukup menyedot perhatian, kata dia, adalah adanya isu SARA yang muncul sangat kuat sehingga menciptakan polarisasi di masyarakat.

Atas kondisi tersebut, dia menyebut penanganan yang serius terhadap tahun politik yang akan dihadapi Indonesia perlu dilakukan agar isu-isu SARA dalam berpolitik dapat dicegah sejak dini.

“Kesadaran masyarakat untuk menggunakan cara-cara yang beretika dan mengedepankan prinsip-prinsip kebangsaan yang berorientasi pada eksistensi NKRI harus dipupuk supaya mengakar kuat,”ungkapnya.

Menurut Amir, isu SARA digunakan dalam berpolitik karena isu ini sangat mudah digunakan untuk menggalang dan mengumpulkan massa.

“Identitas SARA yang melekat pada masing-masing individu membuat orang mudah terpanggil untuk melakukan aksi untuk kepentingan identitasnya. Panggilan atas dasar identitas SARA ini cukup berbahaya, karena menjadi pemicu konflik yang sangat efektif,”papar politikus PKS ini.

Sebagai warga negara yang baik, kata Amir, tidak ada yang menginginkan konflik terjadi lagi di Indonesia. Namun, kata dia, banyak orang yang, secara sadar atau tidak, justru melakukan hal-hal yang memicu konflik SARA, terutama dalam dinamika politik.

“Narasi-narasi yang mengandung konten SARA disebarkan melalui media sosial secara masif. Media sosial yang semakin terbuka dan terjangkau oleh semua kalangan menyebarkan konten-konten tersebut secara cepat. Pengguna media sosial yang beragam, dengan mudah akan terpengaruh oleh konten tersebut terutama jika berasal dari user yang merupakan orang yang dikenal, orang berpengaruh, elit politik, atau public figure,”jelasnya.

Atas kondisi itu, dia menilai penggunaan isu SARA di media sosial harus dihentikan. Apalagi jika untuk kepentingan politik. Dinamika politik sebagai proses untuk menghasilkan pemerintahan, seharusnya mengutamakan konten-konten profesionalisme dan tujuan eksistensi negara.

Karena, kata dia, jika isu SARA yang digunakan untuk mementingkan kontestasi politik maka pihak lain yang berbeda identitas SARA akan cenderung resisten, karena pemenang yang terjadi bukan bagian dari identitasnya.

Hal itu, imbuh dia, berbeda jika isu yang digunakan adalah kinerja atau eksistensi negera, siapapun pemenangnya akan tetap diterima karena satu kesatuan tujuan.

“Menggunakan isu SARA pada sektor politik adalah hal yang tidak terpuji dan harus dicegah. Perlu perhatian dari semua pihak terutama pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat untuk bersepakat mencegah dan menangani jika hal ini terjadi,”jelas dia.

Pemerintah, kata dia, selaku penyelenggara negara harus tegas. Jika terjadi kegiatan politik yang menggunakan isu SARA harus dilakukan tindakan yang cepat dan tepat untuk mencegah dampak negatif terjadi.

 

Penulis: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.