MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kasus Stunting Masih Tinggi, Bupati Blora Minta Kades dan Camat Bantu Update Data

0 12

MuriaNewsCom, Blora – Kasus balita yang mengalami stunting mendapat perhatian serius dari Pemkab Blora. Hal ini terkait masih banyaknya kasus balita stunting yang terdeteksi sepanjang tahun 2018 lalu.

Berdasarkan data yang ada, terdapat 5.861 kasus (15,3 persen) di tahun 2017. Angka ini menurun menjadi 3.626 kasus (8,3 persen) di tahun 2018.

Terkait kondisi itu, Bupati Blora Djoko Nugroho meminta agar seluruh camat dan kepala desa ikut membantu dinas kesehatan dalam melakukan updating data stunting.

“Pak camat, dan kades saya minta ikut memantau langsung ke lapangan. Mendata semua bayi yang ada di desanya, bersama bidan desa memantau kondisi pertumbuhan bayi agar tidak stunting. Saya ingin semua pertumbuhan bayi normal. Jika ada stunting, tolong diidentifikasi apa penyebabnya untuk ditangani bersama-sama,” tegas Djoko dalam Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) tahun 2019 di pendapa rumah dinasnya.

Ia menegaskan, selain bayi, kondisi ibu hamil juga perlu dikawal agar pertumbuhan janin yang dikandung bisa sempurna. Baik asupan gizinya maupun kebersihan lingkungan rumahnya.

“Semua OPD terkait harus bisa mengambil peran dalam upaya penanggulangan stunting ini. Saya ingin bantuan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) difokuskan untuk pembangunan lantai rumah, sanitasi dan ventilasi udara. Pasalnya rumah yang masih berlantai tanah, bersanitasi buruk dan minim ventilasi ini juga merupakan salah satu sebab terjadinya stunting,” tegasnya.

Menurut Djoko, masyarakat utamanya para orang tua juga harus diberikan pemahaman tentang pentingnya pemberian asupan gizi berimbang. Pasalnya tidak orang miskin saja yang terancam kena stunting karena kurang gizi akibat kemampuan ekonomi yang terbatas. Namun, orang kaya juga bisa kena karena tidak paham tentang asupan gizi yang sehat untuk anak-anaknya.

“Saya ingin tahu by name, siapa saja bayi yang menderita stunting. Dua bulan kedepan akan saya kontrol bagaimana perkembangan penanganannya. Ini adalah tugas mulia kita semua. Jika stunting ini dibiarkan, kualitas masa depan generasi kita bisa menurun, daya pikirnya lemah dan tidak bisa bersaing dengan Sumber Daya Manusia (SDM) wilayah lain,” pungkasnya.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Blora Lilik Hernanto menyampaikan, angka stunting berdasarkan data penimbangan serentak pada bulan Agustus 2018 lalu sebanyak 8,3 persen. Angka stunting tertinggi berada di Puskesmas Kedungtuban, disusul Puskesmas Randulawang, Puskesmas Rowobungkul, Puskesmas Gondoriyo dan Puskesmas Puledagel.

“Agustus 2018 lalu kita melakukan penimbangan bayi serentak se Kabupaten Blora bersamaan dengan pemberian vitamin A. Hasilnya, dari 45.637 bayi yang ditimbang sebanyak 8,3 persen diantaranya menderita stunting. Ini yang akan menjadi salah satu fokus penanggulangan stunting kita,” ungkapnya.

Menurut Lilik, ada beberapa faktor penyabab stunting di Blora. Paling besar adalah buruknya pola asuh orangtua terhadap anaknya. Disini orangtua tidak bisa memberikan asupan gizi yang berimbang kepada anaknya baik sejak dalam kandungan maupun pasca kelahiran hingga usia 1.000 hari pertama.

Sedangkan faktor lainnya adalah kondisi lantai rumah yang masih berupa tanah. Dimana, lantai tanah berpotensi memungkinkan hidupnya virus penyakit lebih lama ketimbang lantai ubin. Selain itu, tidak adanya inisiasi menyusui dini , kurangnya pemberian ASI eksklusif, kehamilan dini karena rahim yang belum siap, tidak punya jamban hingga minimnya ventilasi rumah.

Editor: Supriyadi

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.