MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Dua SD di Boyolali Ini Kini Hanya Dihuni Ilalang dan Nyaris Ambruk

0 261

MuriaNewsCom, Boyolali- Dua sekolah dasar di Kabupaten Boyolali, sudah cukup lama tak menjalankan aktivitas belajar mengajar. Bangunan dua SD tersebut, saat ini kosong dan di sekitarnya ditumbuhi ilalang. Bahkan beberapa bagian bangunan nyaris roboh.

Dua SD ini yakni SD Congol Wetan di Kecamatan Simo, Boyolali, dan SD Ketitang di Kecamatan Nogosari, Boyolali. SD Congol Wetan bahkan hampir setahun sudah tak ada aktivitas belajar mengajar, sementara SD Ketitang baru sekitar sebulan ini kosong.

Padahal menurut data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali, dua SD ini masih punya siswa.

Saat ini siswa di SD Congol Wetan hanya 39 siswa yang tersebar dalam semua jenjang, kelas I hingga kelas VI. Sedangkan di SD Ketitang sudah dua tahun ini tidak ada penerimaan siswa baru.

Dua sekolah ini memang sudah lama kehilangan siswa. Minat warga untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah ini semakin menurun tiap tahunnya. Hingga akhirnya pemerintah memutuskan untuk menutup dua SD ini.

Alhasil, siswa yang masih menempuh pendidikan di dua SD ini pun harus pindah ke sekolah lain. Di SD Ketitang, dari total 16 siswa, hanya ada 15 siswa yang pindah belajar di SDN Mojorejo, sementara satu siswa lain pindah ke madrasah ibtidaiah (MI) tak jauh dari sana.

Begitu juga dengan siswa di SD Congol Wetan yang siswanya sudah migrasi ke sekolah-sekolah lain di sekitar desa itu.

Papan sekolah SD Ketitang tertutup rumput liar. (Foto: solopos.com)

Kondisi bangunan dua sekolah memang cukup memprihatinkan, karena sudah cukup lama ditelantarkan.

Namun yang paling parah terlihat di SD Congol Wetan. Beberapa bagian bangunan bahkan terlihat roboh.

Genting tidak lagi terpasang. Sekolah tersebut memiliki lima bangunan yang berfungsi sebagai ruang kelas, ruang guru, gudang, dapur, dan kamar mandi. Sebagian di antaranya tidak memiliki pintu dan kaca jendela.

Seorang warga yang tinggal di samping SD, Wardi, menyebutkan terakhir beroperasi SD tersebut hanya memiliki belasan murid untuk enam jenjang kelas.

Kepala Desa Bendungan, Suratin, menuturkan penurunan minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di SD negeri sudah terjadi sejak tiga tahun lalu.

Kasus tutupnya SD negeri di daerah itu menurut dia bukan kali pertama terjadi. Sekitar sepuluh tahun lalu, kasus serupa juga terjadi di SDN Bendungan yang merupakan SD induk di desa. “Kalau SD Congol [Congol Wetan] ditutup artinya desa sudah tidak lagi memiliki SD negeri,” ujar dia.

Orang tua, lanjutnya, lebih memilih dua sekolah swasta yang ada di desa untuk menyekolahkan anak mereka di jenjang pendidikan dasar yaitu MI Muhammadiyah Congol dan MI Muhammadiyah Wonosari. Beberapa siswa SD Congol Wetan diketahui pindah ke sekolah tersebut.

Suratin menambahkan ada sejumlah faktor yang menyebabkan dua sekolah negeri di desanya tutup. Selain pilihan SD swasta yang berkultur Islam, dirinya menyebut bahwa di Desa Bendungan warga berusia sekolah hanya berjumlah sedikit. “Total ada sekitar 200 warga Bendungan yang berusia SD,” kata dia.

Kepala Dinas Pendidikan Boyolali, Darmanto, menegaskan SD Congol Wetan akan ditutup bukan digabung atau merger. Keputusan penutupan sekolah ini menurut dia, tidak akan memberatkan warga maupun orang tua siswa.

Pasalnya sekolah tersebut terletak berdekatan dengan sekolah jenjang SD/sederajat di lingkungan Desa Bendungan. Saat ini, SD Congol Wetan masih menunggu SK resmi penutupan. “SK Bupati masih kami proses,” pungkasnya.

 

Penulis: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha
Sumber: solopos.com

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.