MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Laporan Langsung dari Rusia

Hookah, Sejarah dan Gaya Hidup Anak Muda Rusia

0 77

MuriaNewsCom, Saint Petersburg – Hookah adalah cara menghisap tembakau yang direndam dan diberi cita rasa tertentu. Yang khas dari menghisap tembakau model ini adalah dengan menggunakan bong.

Tabung ini akan mengalirkan tembakau yang dihisap dengan bantuan panas dari bara briket arang kelapa yang ditaruh di atasnya. Biasanya ada sekitar 4 briket arang kelapa yang terpasang di sana.

Asap tembakau yang dihasilkan dari penghisapan kemudian turun ke bawah dan disaring oleh air yang berada di bagian bawah dan keluar melalui pipa plastik panjang.

Penggunaan media air ini adalah semacam filter untuk mendinginkan dan mengurangi kadar nikotin yang ada di tembakau. Sehingga para penikmat hookah akan merasa segar dengan cita rasa sesuai selera.

Menikmati shisha paling seru adalah bareng teman-teman. (MuriaNewsCom/Deka Hendratmanto)

Hookah memiliki sejarah yang panjang. Beberapa literatur menyebutkan jika hookah konon berasal dari India dan sudah ada sejak sebelum bangsa Indian di Amerika menghisap tembakau.

Meski ada yang menyebut hookah berasal dari Persia. Versi lain menyebut hookah berasal dari India dan berkembang pesat di kawasan Arab.

Di kawasan Arab inilah, hookah berubah nama menjadi shisha. Indonesia termasuk penganut nama shisha ini. Dan sebagian kita sering mendefinisikan shisha sebagai rokok Arab.

Selain shisha, hookah juga dikenal dengan nama Lula atau Lulava di Albania. Di Lebanon, Palestina, Israel dan Uzbekistan, hookah lebih dikenal sebagai argilee atau argileh atau argilah.

Pria ini sedang membandingkan cita rasa tembakau shisha satu dengan yang lain. (MuriaNewsCom/Deka Hendratmanto)

Hookah kini sangat populer di kalangan anak-anak muda Rusia. Ketika restoran dan cafe banyak memberlakukan larangan merokok di dalam, justru hookah banyak tersedia sebagai menu tambahan di restoran dan cafe. Yang unik, tagihan hookah terpisah dengan tagihan makan.

Untuk menikmati hookah, kita mesti mengeluarkan duit setara Rp 200 ribu untuk durasi sekitar satu jam.

“Bisa saja kita menghabiskan satu setengah jam atau dua jam. Tapi rasanya sudah tidak enak. Harus ganti (tembakau) baru. Jadi harus bayar lagi Rp 200 ribu,” kata Savridin Kurbanov, seorang Rusia muslim penikmat hookah yang fasih berbahasa Indonesia dan mengaku pernah kuliah di Malang.

 

Reporter: Deka Hendratmanto
Editor: Deka Hendratmanto

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.