Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Penasaran, Ternyata Begini Awal Mula Munculnya Nasi Jangkrik

MuriaNewsCom, Kudus – Nama nasi jangkrik tak asing bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Kudus dan sekitarnya. Nasi jangkrik yang khas dengan daun jati biasanya dibagikan kepada masyarakat setiap tanggal 10 Muharram saar peringatannya wafatnya Sunan Kudus.

Masyarakat menyakini ada berkah dalam nasi jangkrik yang dibagikan di puncak buka luwur Sunan Kudus. Karena sebelumnya diawali dengan pembacaan doa oleh juru kunci makan Sunan Kudus setelah salat Subuh.

Konon nasi jangkrik merupakan makanan kesukaan dari Sunan Kudus. Namun jangan bayangkan nasi jangkrik di dalamnya ada jangkrik. Seperti apa awal mula dari nama nasi jangkrik.

MuriaNewsCom mencoba mencari informasi sejarah nasi jangkrik kepada seorang pedagang nasi jangkrik yang berada di Jalan Sunan Kudus. Salah satunya Fauzuz Said (38).

Pedagang yang sudah berjualan hampir empat tahun itu menjual nasi jangkrik godong jati. Konon menurutnya ada cerita awal mula nama nasi jangkrik.

Said sapaan akrabnya pernah mendapatkan cerita asal mula nama nasi jangkrik dari orang tuanya. Diceritakan dia, dulunya di Masjid Menara Kudus sering dijadikan pertemuan para wali. Mereka berkumpul di tajug menara.

“Nah dari sana juga itu dikenal dengan nama Mbah Telingsing yang merupakan salah satu wali juga. Sering ikut pertemuan. Mbah Telingsing ini juga muridnya Sunan Kudus. Kebetulan istri dari Sunan Kudus senang masak. Suatu ketika ada pertemuan dimasakkan seperti ini (nasi jangkrik sekarang). Kemudian mbah Telingsing ini ngomong “jangkrik” enak tenan. Akhirnya nasi ini dinamakan nasi jangkrik,” jelasnya.

Meski begitu, ada versi cerita lain tentang asal muasal nama nasi jangkrik. Menurutnya, asal nama jangkrik ini bermula dari bawang putih yang sudah matang. Kalau digoreng wujudnya seperti jangkrik. Sehingga akhir nasi ini dinamakan nasi jangkrik.

“Ada versi lain. Karena cara memasaknya ini menggunakan bawang putih. Bawang putih ini ketika digoreng kemudian ditarburkan ke nasi dengan daging kerbau ini wujudunya kayak jangkrik lanang. Sehingga dikenal dengan nama nasi jangkrik,” ujarnya.

Sementara itu, Dosen Sejarah Universitas Negeri Semarang Saiful Amin mengatakan, bahwa nama atau istilah nasi jangkrik ini sudah digunakan oleh Sunan Kudus. Secara harfiah tidak bisa diartikan.

“Istilahnya itu sudah digunakan oleh Sunan Kudus, secara harfiah tidak bisa diartikan,” jelasnya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, nasi jangkrik ini konon sudah menjadi makanan kesukaan dari Sunan Kudus. Oleh karena itu, masyarakat percaya bahwa nasi itu bisa membawa berkah.

“Meskipun demikian ada banyak cerita terkait nama nasi jangkrik. Itu adalah sebagai tradisi lisan. Bisa dijadikan refrensi jika cerita tersebut masih hidup dan dipercaya oleh masyarakat,” jelasnya.

Hingga pada akhirnya, permasalahan akhirnya bukan nama nasi jangkrik. Namun pemaknaan akan semangat berbagi dan berkah dari Sunan Kudus itu menjadi magnet bagi masyarakat.

“Yang terpenting pemaknaan akan semangat berbagi dan berkah dari Sunan Kudus yang menjadi magnet bagi masyarakat,” tutupnya.

Editor : Supriyadi

Comments
Loading...