Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Komunitas Seni Samar Pukau Ratusan Penonton

0 136

MuriaNewsCom, Kudus – Komunitas Seni Samar melalui teater A Vague Story of Rananggana, Bregada Merudhanda yang dipentaskan di Auditorium UMK, Rabu (6/3/2019) sukses pukau ratusan penonton. Dibuka dan diiringi oleh alunan musik Republik Kanzu serta Pemujaku, para penikmat seni peran tampak hanyut dalam alunan musik dan cerita.

Ditulis oleh Leo Katarsis serta disutradai Ahmad ‘Mophet’ Safrudin, pertunjukan dimulai saat dua wanita membacakan prolog dari cerita. Kisah Bregada Merudhanda sejatinya merupakan kisah dari Bregada Manyura yang merupakan pasukan pilihan medhang bumi mataram pengabdi setia Ratu Sanjaya. Mereka dipimpin oleh Hang Anggana, seorang panglima digdaya, sepupu Ratu Sanjaya.

Singkat cerita, Anggana diperintahkan oleh Sanjaya untuk menumpas habis Kerajaan Sunda-Galuh saat terdengar kabar jika raja kerajaan tersebut berencana untuk memberontak. Tanpa diduga, istana Medhang diserbu pasukan Sriwijaya. Usai memadamkan pemberontakan, Anggana dan pasukannya bergegas kembali ke Medhang. Prajurit Sriwijaya berhasil dipukul mundur dan digiring menuju Selat Muria. Kapal-kapal mereka dibakar dan ditenggelamkan.

Akan tetapi, kemenangan Anggana dan pasukannya menjadi tidak berarti karena ternyata Ratu Sanjaya gugur dalam penyerbuan pasukan Sriwijaya. Anggana sangat berduka. Dia kehilangan saudara, sahabat dan tujuan pengabdiannya.

Anggana kemudian meninggalkan kerajaan Medhang dan kembali ke tanah muria. ia menjalani kemudian menjalani hidup selanjutnya sebagai orang biasa dan pasukannya menyebar dari Tanjung Para sampai Teluk Silunggangga untuk menjaga tanah muria yang dikenal dengan nama Rananggana. Upacara Merudhandha dilaksanakan tiap tahunnya untuk mengenang peristiwa tersebut.

Terkait pementasan, Gunadi, Ketua Paguyuban Seni Samar menjelaskan jika pertunjukan ini diperuntukkan secara spesial bagi ‘sang badut’, Mauli Akbar. Seorang teman yang dijelaskannya sangat akrab dengan Paguyuban Seni Samar. Harmoni, saling berinterksi, silih berganti seiring berjalannya waktu adalah kunci dari teater ini.

“Persoalan teater adalah tentang karakter manusia yang tidak bisa dirinci,” ujarnya.

Sementara, Ineke, salah seorang penonton mengaku terbawa  cerita saat menyaksikan pementasan tersebut. Alur menarik serta irama yang menyatu dengan peran lakon jadi magnet tersendiri bagi dirinya untuk menonton sampai akhir pertunjukan.

“Teater komplit yang menarik,” tandasnya.

Pertunjukan sendiri selesai pukul 22.00 WIB dan dilanjutkan dengan diskusi kebudayaan komunitas samar mengenai Masyarakat Pra Kudus.

Editor : Supriyadi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.