MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Bidan PNS Asal Klaten Jadi Jaringan Aborsi Ilegal, Pasang Tarif Rp 11,5 Juta

0 315

MuriaNewsCom, Klaten –  Seorang bidan desa asal Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten, berinisial Aj dibekuk aparat kepolisian. Bidan berstatus PNS itu dibekuk karena menjadi bagian dari jaringan aborsi ilegal.

Tak hanya bidan ini saja, polisi juga mengamankan anggota jaringan lain berinisial AN dan APN. Polisi juga menetapkan sepasang kekasih berinisial DA (20) warga Pekalongan dan YJ (23) warga Yogyakarta, yang memanfaatkan jasa jaringan ini untuk melakukan aborsi, sebagai tersangka.

Dalam aksinya,  jaringan aborsi ilegal ini memasarkan jasanya melalui internet. Tarif yang dipasang untuk tindakan aborsi sebesar Rp 11,5 juta.

Namun dari hasil pemeriksaan, oknum bidan desa itu hanya mendapatkan honor Rp 1,3 juta untuk sekali tindakan aborsi.

Yang paling banyak mendapat bagian yakni AN, sebesar Rp 10 juta, karena bertindak sebagai admin dan pencari pasien. AN juga diketahui sebagai seorang dokter.

Sementara APN yang bertugas sebagai asisten dokter, hanya mendapatkan bagian sebesar Rp 1 juta. Sisanya digunakan untuk biaya hotel.

Kapolres Klaten AKBP Aries Andhi, dalam keterangan persnya mengatakan, pengungkapan jaringan aborsi ilegal ini berasal laporan warga. Polisi kemudian melakukan penelusuran, dan mendapati rencana DA yang ingin menggugurkan kandungannya.

”DA dan YJ mencari informasi lewat internet dan mendapati link jasa aborsi yang bernama Aborsi Gastrul Cytotec. Dalam link itu juga ada akun Line, NINDIRAABORSI, adminnya bernama AN,” katanya, Rabu (6/3/2019).

Pasangan ini kemudian menghubungi akun Line tersebut, dan terjadi kesepakatan harga Rp 11,5 juta untuk proses aborsi.

Kasat Reskrim Polres Klaten, AKP Didik Sulaiman menjelaskan menurut pengakuan tersangka dari order Rp 11,5 juta yang disepakati, mereka langsung mentrasfer uang sebesar Rp 10 juta sebagai DP.

“DA dan YJ berangkat dari Pekalongan ke Yogyakarta untuk bertemu dengan asisten dokter Nindira yang bernama APS. Mereka kemudian menuju ke Klaten untuk dilakukan tindakan aborsi di Klinik Bidan Desa AJ yang beralamat di Desa Kajen, Kecamatan Ceper,” ujarnya.

Proses aborsi dilakukan dengan menyuntikkan beberapa cairan obat kimia. Setelah proses aborsi selesai, DA dan APS menuju hotel Srikandi di Daerah Karangwuni, enam jam kemudian, janin yang dikandung DA ke luar di kamar mandi hotel Srikandi.

Janin tersebut kemudian langsung dikubur oleh YJ di pekarangan kosong pinggir jalan raya Solo, turut Desa Kuncen Kecamatan Ceper.

“Akibat perbuatan tersebut kelima tersangka dijerat Pasal 194 Jo 75 ayat (2) UURI No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara,” terangnya.

Kasat menambahkan, dari pengakuan AN harga yang diatwarkan untuk aborsi bervariasi tergantung usia kandungannya. Untuk usia kandungan di atas 2 bulan harus dilakuakn tindakan, sementara untuk kandungan di bawah dua bulan cukup diberi obat.

AN juga mengaku selama ini telah mengirimkan obat penggugur kandungan lebih dari 100 kali hingga ke Sulawesi.

Sementara itu bidan Aj ketika diinterograsi Kapolres Klaten, AKBP Aries Andhi mengaku menyesal dengan perbuatan yang telah dilakuakn. Setelah menjalani proses hukum atas kasus ini dia mengaku akan tobat dan resign dari profesinya sebagai bidan. “Saya menyesal dan setelah ini akan resign saja,”, kata AJ dengan nada malu.

 

Penulis: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.