MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Vonis Pemilik Karaoke di Kudus Berat Sebelah, Kepala Satpol PP Marah

0 524

MuriaNewsCom, Kudus – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) beberapa hari lalu, berhasil menertibkan pelanggaran Perda terkait tempat hiburan malam, pub, dan karaoke di Queen Cafe di Jalan Lingkar Mijen, Kecamatan Kaliwungu Kudus. Satu orang berinisial DAA akhirnya diberi pembinaan dan akan dilakukan sidang tindak pidana ringan kepada yang terkait, Selasa (5/3/2019).

Kepala Satpol PP Kabupaten Kudus, Djati Solechah mengatakan, DAA telah melanggar Perda no 10 tahun 2015 tentang hiburan malam, pub, club dan penataan karaoke. Sejumlah barang bukti pun diamankan oleh pihaknya. Di antaranya dua mixer, dua televisi, satu keyboard, empat salon, dan berbagai peralatan karaoke yang bisa dijadikan barang bukti di persidangan.

Akan tetapi, saat persidangan, pihak pelanggar Perda justru didok dengan putusan hukuman yang remeh. Adalah vonis satu bulan kurungan dengan masa percobaan dua bulan. Tidak ada denda, serta mirisnya barang bukti dikembalikan, terkecuali miras diserahkan ke kejaksaan negeri Kudus.

Putusan tersebut sontak membuat pentolan Satpol PP Kudus itu geram bukan main. Pihaknya pun merasa kecewa terhadap putusan di sidang tersebut. Ia pun menduga ada intervensi dari pihak luar terkait putusan tersebut.

“Saya curiga ada oknum dari luar yang mengintervensi putusan hakim,” ucapnya dengan nada tidak puas.

Barang bukti berupa miras yang diamankan dari cafe dan tempat-tempat lain (MuriaNewsCom/Anggara Jiwandhana)

Putusan hakim dinilai tidak mencerminkan keadilan dan dianggap bisa melemahkan semangat anak buahnya dalam menegakkan Perda.

“Sungguh kami sangat kecewa,” katanya pada MuriaNewsCom via pesan singkat.

Djati juga menyinggung bagaimana pengelola kafe sebenarnya pernah diberi pembinaan oleh pihaknya. Pembinaan itu terkait masih beroprasinya karaoke di kafe tersebut padahal sudah ada perda yang melarang.

“Sampah saja denda Rp 300 ribu, ini yang ada miras dan karaoke malah dengan lenggangnya tanpa membayar denda. Heran saya,” kata Djati.

Terkait hal ini, pihaknya hanya takut jika para anggotanya berfikiran untuk tidak bersungguh-sungguh dalam menegakkan Perda lagi. Ditekankan sekali lagi oleh pihaknya, jika benar hakim diintervensi putusannya oleh sejumlah oknum, ini benar-benar perbuatan yang menciderai keadilan di Kota Kretek.

“Saya benar-benar kecewa dalam hal ini,” tandasnya.

Editor : Supriyadi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.