MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Dipertemukan dengan Kasatlantas, Komunitas Difabel Blora dapat Pemahaman Cara Bikin SIM D

0 35

MuriaNewsCom, Blora – Prosedur untuk mendapatkan SIM D akhirnya didapat anggota Komunitas Difabel Blora Mustika (DBM). Ini setelah perwakilan DBM difasilitasi Wakil Bupati Blora Arief Rohman bisa bertemu dengan Kasat Lantas Polres Blora AKP Himawan Aji Angga beserta jajarannya. Beberapa hari sebelumnya, sejumlah anggota komunitas DBM Blora memang sempat meminta pada Arief Rohman agar membantu mereka dalam mendapatkan SIM D.

Dalam kesempatan itu, Kasatlantas AKP Himawan Aji Angga menyampaikan, sebenarnya tidak ada yang mempersulit proses pembuatan SIM D bagi para difabel. Buktinya, hingga saat ini Satlantas Polres Blora sudah menerbitkan sebanyak 25 SIM D untuk para difabel. Meski demikian, dalam pengurusan SIM D tersebut harus tetap menjalani serangkaian proses sesuai aturan yang berlaku, diantaranya pemeriksaan kesehatan.

“Untuk syarat administrasi dan kondisi fisik biasanya tidak begitu terkendala. Namun ketika teman-teman difabel menjalani tes kesehatan sebagai salah satu syarat pengurusan SIM, banyak yang tidak memenuhi syarat. Sehingga hal inilah yang perlu dipahami,” jelasnya.

Wakil Bupati Blora Arief Rohman memfasilitasi pertemuan komunitas DBM Blora Kasat Lantas Polres Blora AKP Himawan Aji Angga beserta jajarannya dalam rangka pembuatan SIM D. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sementara itu, dr Irawan Tedjawardana selaku mitra Satlantas Polres Blora yang bertugas memeriksa kesehatan para pemohon SIM mengatakan, dirinya tidak mempersulit dalam proses pemeriksaan kesehatan. Justru pihaknya ingin melindungi teman-teman difabel agar tidak celaka di kemudian hari.

“Jika memang tidak memenuhi syarat kesehatan, kami tidak berani meloloskannya. Ketentuan lolos dan tidaknya sudah diatur dalam aturan yang dibuat dari pusat, yakni Polri,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, jika difabel itu tuna rungu atau kesulitan pendengaran pasti kemungkinan lolos tes kesehatannya sangat kecil atau sulit. Apalagi buta warna tidak bisa membedakan warna lampu traffic light.

“Kalau memang bisa mengendarai motor tapi pendengarannya terganggu kan bahaya. Contohnya saat menjalankan motor di jalan raya lalu diklakson tidak mendengar kan bisa berakibat kecelakaan. Contoh seperti inilah yang perlu dipahami. Memang difabel berhak mengajukan pembuatan SIM D, namun belum tentu semuanya bisa lolos persyaratannya,” imbuhnya.

Wakil Bupati Arief Rohman meminta agar seluruh difabel yang ingin mengurus SIM D bisa menjalani proses sesuai aturan perundang-undangan. Arief meminta agar para difabel bisa mengurus SIM D secara kolektif dengan menempuh prosedur yang berlaku.

“Tolong Mas Ghofur sebagai koordinator DBM bisa mendata berapa anggotanya yang ingin mengurus SIM D. Nanti diproses secara kolektif saja ke Satlantas dengan tetap menempuh prosedur yang berlaku. Jika nanti tidak lolos, juga harus menyadari kekurangannya. Keinginan difabel terwadahi, sebaliknya pihak Satlantas juga tidak melanggar aturan,” katanya.

Editor : Supriyadi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.