Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Konfercab PCNU Pati Bakal Memperjelas Kemandirian NU

MuriaNewsCom, Pati – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati bakal menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) pada 7 Maret 2019 pekan depan. Acara yang bakal berlangaung di Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum Pakis, Kecamatan Tayu itu mengusung tema “Satu Abad Menuju Kemandirian NU”.

Ketua Konfercab PCNU Pati Jamal Ma’mur Asmani mengatakan, ada beberapa poin penting yang akan menjadi rumusan. Pertama kemandirin NU dalam hal aqidah, fikrah dan harakah.

“Aqidah Aswaja An Nahdliyyah mengokohkan Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Binneka Tunggal Ika. Fikrah An Nahdliyyah mencerminkan moderasi, progresi, dan toleransi dalam harmoni. Harakah Aswaja berpihak kepada kebenaran, kepentingan Umum, dan nilai kebermanfaatan untuk bangsa secara keseluruhan,” katanya, Jumat (1/3/2019).

Kemandirian kedua, lanjut Jamal adalah pada politik kebangsaan. Tarikan kepentingan politik sangat kuat, sehingga kemandirian politik kebangsaan sulit ditegakkan.

Politik kebangsaan adalah politik yang berorientasi pada pemberdayaan umat di segala aspek kehidupan yang dirumuskan dengan khittah 1926.

“NU dengan khittah diharapkan melakukan optimalisasi upaya menuju kemandirian NU di segala aspek kehidupan,” ujarnya.

Selanjutnya adalah kemandirian dalam hal konomi keumatan. Melihat potensi LazisNu sangat besar, tapi membutuhkan manajemen transparan akuntabel yang diisi sumber daya manusia yang professional, shidiq, amanah, tabligh, fathanah.

“Jika LazisNu sukses, potensi di bidang yang lain akan lahir dengan sendirinya, seperti di Sragen. Lazisnu Sragen sukses, akhirnya berdirilah rumah sakit, NU Mart, BMT NU, dan usaha-usaha produktif yang lain,” terangnya.

Yang tak kalah penting adalah kemandirian pendidikan. Ini sangat tampak pada pesantren salaf yang diakomodir pemerintah dalam pesantren muadalah, pendidikan diniyah formal, dan Ma’had Aly.

Inilah kemandirian  pendidikan ala NU yang sangat khas. Sementara untuk pendidikan formal dibutuhkan transformasi fundamental yang sesuai dengan budaya bangsa dan nilai etis agama.

Disusul kemudin orientasi hidup warga NU yang diwariskan para ulama adalah khidmatul ummah (melayani umat) sebagai manifestasi dari tanggungjawab agama.

“Orientasi horisontal yang membumi ini melahirkan mental kepeloporan, kewirausahaan, kreativitas, inovasi, kolaborasi, dan sinergi dengan elemen lembaga yang lain,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...