Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

DBD Mengganas di Jepara, 300 Orang Terjangkit 4 Meninggal Dunia

MuriaNewsCom, Jepara – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) tengah mengganas di Kabupaten Jepara. Bahkan dalam sepanjang dua bulan terakhir, sudah 300 orang terkena penyakit ini.

Dari jumlah itu, empat orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah ini jauh melebihi dari tahun 2018, di mana dalam setahun hanya 206 kasus dan dua orang meninggal dunia.

Sementara di tahun 2019, memasuki akhir Febuari ini sudah ada 300 kasus lebih, dengan korban 4 orang meninggal.

“Baik dari kasus maupun korbannya, saat ini sudah melampaui yang terjadi pada 2018. Persoalan ini tidak bisa dianggap remeh,” kata Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, Kamis (28/2/2019).

Marzuqi kembali menegaskan agar upaya pencegahan kembali dikobarkan. Perkembangan kasus penyakit DBD harus segera ditekan.  Gerakan-gerakan massal untuk membasmi perkembangan nyamuk Aides Aigyti harus kembali digalakan.

“Kami sudah mengeluarkan surat edaran mengenai kewaspadaan dini kasus DBD. Seluruh perangkat daerah, camat, petinggi desa dan kepala Puskesmas kami dorong sekali lagi untuk lebih aktif dalam melakukan upaya-upaya pencegahan,” ujarnya.

Program Gertak (Gerakan Serentak) DBD dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), setiap hari Jumat dan Minggu, sudah dilaksanakan. Program lain adalah gerakan melakukan 3 M (Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang), ditambah pengoptimalan program satu rumah satu jumantik.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara, dr Fakhrudin menyatakan, kasus DBD di Jepara memang mencengangkan.

Empat orang sudah menjadi korban. Mereka merupakan dua orang warga Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Jepara dan warga Desa Daren, Nalumsari serta warga Tiga juru, Kecamatan Mayong.

Sedangkan untuk daerah terjadinya kasus, paling tinggi saat ini terjadi di Bangsri I (40 kasus), kemudian disusul Donorojo (32 kasus), Kembang (32 kasus), Tahunan (30 kasus), dan Keling I (25 kasus). Pihaknya masih terus mewaspadai perkembangannya. Tidak menutup kemungkinan jumlahnya masih bisa meningkat.

“Cuaca yang  terjadi memang mendukung perkembangan nyamuk Aides saat ini.  Hujan disertai panas berselang-seling membuat nyamuk berkembang biak cepat,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...