MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Bentar Lagi Coblosan, Ganjar : Jangan Nge-Hoaks-Mudah Ngamuk, Itu Ndeso

0 152

MuriaNewsCom, Solo – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersma sejumlah tokoh bicara soal kebangsaan dalam dialog Suluh Kebangsan ke-VI yang diinisiasi Mahfud MD di Stasiun Balapan Solo, Rabu (20/2/2019).

Sejumlah tokoh turut hadir dalam dialog ini. Di antaranya tokoh lintas agama di antaranya Romo Kardinal Julius Darmaatmadja, Alissa Wahid, Muhammad Tafsir, KH. Dian Nafi’ dan Walikota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo.

Ganjar Pranowo dalam bicara soal sikap masyarakat terhadap pemilu. Pemilu yang menjadi proses politik lima tahunan ini bisa dikatakan sukses melahirkan pemimpin jika seluruh warganya bisa mempertanggung jawabkan pilihannya.

“Demokrasi pestanya sedang kita laksanakan. Mari belajar bertanggung jawab. Karena kita yang menentukan bangsa ini, bukan calon yang menentukan. Maka calonlah yang kita daulat untuk membawa gerbong Indonesia semakin jaya,” kata Ganjar.

Di hadapan para tokoh tersebut, Ganjar menitip pesan agar tak lelah menebar suluh kebaikan. Masyarakat diminta tak mudah terprovokasi, terpancing hoaks dan mudah ngamuk.

“Jangan nge-hoaks bicarakan loyalitas lima tahunan ini. Toh kita akan bersalaman lagi, bersilaturahmi lagi sebagai anak bangsa. Jangan emosi, jangan ngamuk, jangan bakar-bakaran. Ndeso itu ora mutu,” katanya.

Dialog merupakan acara ke enam dari sembilan rangkaian dialog kebangsaan dari Merak hingga Banyuwangi selama lima hari.

Ketua Gerakan Suluh Indonesia yang sekaligus anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Mahfud MD bicara lantang soal kemutlakan Pancasila sebagai dasar ideologi negara. Bahkan siapapun yang berupaya mengganti dasar tersebut, akan menemu kegagalan.

“Kita ingin mengatakan Pancasila sebagai dasar ideologi negara tidak akan tergantikan. Siapa yang akan melawan dia akan kalah. Silakan tengok sejarah. Pancasila itu selalu jadi titik tengah tempat kembali saat ada problem, baik konstitusional resmi kelembagaan atau apapun,” katanya.

Sementara itu, Romo Kardinal Julius Darmaatmadja mengatakan, mencintai negara adalah kewajiban bagi rakyat.

“Merawat Indonesia itu membutuhkan semangat. Tapi kadang semangat itu luntur  karena yang dicintai terlalu jauh. Merasa wajib mencintai adalah cara kita merawat Indonesia,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.