MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Beras Merah dan Robusta Temanggung Ternyata Sudah Tembus Pasar Eropa

0 393

MuriaNewsCom, Semarang – Komoditas pertanian Jawa Tengah ternyata sudah merambah pasar internasional. Beberapa di antaranya adalah beras merah dan kopi robusta Temanggung.

Dua komoditas ini bahkan sudah merambah pasar di Benua Eropa. Pangsa pasar beras merah dan robusta Temanggung cukup diminati di benua ini.

“Hasil pertanian kita sebenarnya sudah ekspor ke beberapa negara di Eropa. Ada produk unggulan beras merah dan kopi robusta dari Temanggung,” kata Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin, saat menerima kunjungan kerja Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) RI di ruang kerjanya, Kamis (14/2/2019).

Hanya saja, saat ini baru mengekspor bahan mentah saja, sehingga nilai ekonomisnya kurang. Pihaknya kini tengah mendorong agar ekspornya sudah berbentuk olahan

Ia mencontohkan, pengolahan cabai bubuk dapat menyiasati persoalan cabai yang mudah busuk jika tidak segera dipasarkan dan sampai ke tangan konsumen. Selain itu, pemanfaatan cold storage juga dapat diterapkan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Gus Yasin, sapaan akrabnya, membeberkan beberapa komoditas pertanian unggulan Jateng. Seperti tebu, tembakau, kopi robusta, kopi arabika, cengkeh, karet, dan kelapa. Ada pula kedelai asli Kabupaten Grobogan yang kualitasnya tidak kalah bersaing dengan kedelai Amerika.

“Kedelai Grobogan pernah diuji dengan kedelai Amerika, ternyata lebih baik produk lokal kami. Edukasi kepada masyarakat untuk mengembangkan kedelai perlu terus didorong karena belum banyak yang terjun di pertanian kedelai. Padahal, di Indonesia setiap rumah tangga pasti mengonsumsi tempe,” bebernya.

Mantan anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah itu menjelaskan, dengan potensi pertanian yang luar biasa, Pemprov Jateng berupaya memberikan layanan yang memudahkan petani untuk memajukan sektor pertanian mereka.

Seperti layanan kartu tani yang memut database pertanian. Kapan mereka menanam benih, membeli pupuk bersubsidi, komoditas dan luas lahan.

Data tersebut digunakan untuk memprediksi waktu panen, sehingga pemerintah dapat membantu mengatur distribusi hasil panen ke daerah-daerah yang membutuhkan secara tepat sasaran dan dengan harga yang menguntungkan.

“Kartu tani kini diadopsi pemerintah pusat dan diterapkan di beberapa provinsi, seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan NTT,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.