Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Sindikat Pemalsu STNK dan Surat Berharga Bisa Raup Keuntungan Rp 20 Juta per Bulan

MuriaNewsCom, Kudus – Kasus pemalsuan dokumen berharga seperti Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), BPKB, NPWP, sertifikat tanah, kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP), kartu Keluarga (KK), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), buku nikah, akta cerai dan dokumen lainnya sempat membuat geger warga Kudus. Beruntung, keenam pelaku sindikat pemalsuan tersebut sudah diamankan Polres Kudus dan sedang menjalani masa hukumannya.

MuriaNewsCom mendapat keterangan dari Kapolres Kudus, AKBP Saptono terkait berapa keuntungan dari para tersangka pemalsu surat berharga tersebut. Menurutnya sekali cetak, para pelaku mematok harga di angka Rp satu juta hingga Rp dua juta lima ratus ribu.

“Berada di kisaran segitu,” ucapnya di Mapolres Kudus.

Saptono merinci, para tersangka mematok harga yang berbeda sesuai dengan jenis suratnya. Untuk STNK palsu, pelaku mematok harga sebesar Rp dua juta lima ratus ribu. Sedangkan KTP, KK serta dokumen lainnya, dihargai Rp satu juta per surat.

” Bervariasi, sesuai jenis dan tingakt kesulitan pembuatan suratnya” terangnya.

Dari hasil penjualan surat palsu tersebut, para tersangka mampu meraup omsert hingga Rp dua puluh juta per bulan.

Baca Juga : 

Selain mengetahui berapa omset komplotan tersebut, fakta baru didapatkan saat tersangka Juned memberikan keterangan. Juned sebelumnya merupakan mantan karyawan perbankan, sehingga Ia dengan mudahnya mengetahui syarat yang diminta untuk pengajuan KUR. Adapun bahan kertas untuk membuat surat palsu, membeli di toko kertas.

Terkait alasan awal, Juned  mengaku timbul niat membuat dokumen palsu itu saat ingin mengajukan pinjaman ke bank namun pajak STNK nya habis. Untuk mempercepat proses pencairan, Dia nekat membuat surat pajak palsu. Setelah jadi, surat tersebut difoto dan langsung dikirimkan ke karyawan bank.

“Saya otodidak membuat dokumen palsu tersebut. sudah 4 tahun, tapi kalau membuat STNK baru satu tahun terakhir,” kata Junaidi.

Untuk membuat STNK palsu, Juned membutuhkan waktu setidaknya 3 hari. Hanya, sebelumnya Ia sudah mendapat program pembuatan surat-surat tersebut dari makelar. Sehingga tinggal mengganti kolom nama, nomor dan kolom lainnya yang perlu diganti.

“Yang pesan orang lokal saja, sekitar 20 orang. Paling mahal Rp 1 juta untuk pembuatan STNK, dan ada juga yang cukup ngasih uang rokok saja,” tandasnya.

Akibat perbuatan keenam pelaku, dijerat pasal 263 KUHPidana tentang pemalsuan surat berharga. Dengan ancama hukuman penajara 6 tahun.

Editor : Supriyadi

Comments
Loading...