Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Berlangsung Alot, Kandang Ayam di Temulus Kudus Akhirnya Ditutup

MuriaNewsCom, Kudus – Audiensi warga penolak kandang ayam milik Ali Mukhsan di Balai Desa Temulus, Kecamatan Mejobo berlangsung alot, Rabu (16/1/2019). Meskipun demikian, audiensi yang dipimpin langsung oleh Camat Mejobo Harso Widodo memutuskan kandang ayam itu bakal ditutup. Hanya saja menunggu hingga 36 hari setelah panen ayam.

Harso mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kandang ayam yang terletak di Desa Temulus akan ditutup. Pertama usaha ternak kandang ayam itu belum memiliki izin Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL).

“Meskipun pihak RT RW telah memberikan izin. Namun ada teknisnya. Yakni apabila ternak yang di atas 15 ribu ekor itu harus ada UKL dan UPL. Ini kandang milik Pak Ali Mukhsan jumlahnya ada 26 ribu ekor. Jadi harus ada UKL dan UPL,” jelasnya kepada awak media, Rabu (16/1/2019).

Selanjutnya terkait, jarak usaha ternak ayam itu minimal 250 meter dari permukiman warga. Namun kenyataannya kandang tersebut terletak hanya 50 meter dari permukiman warga.

“Jaraknya memang minimal 250 meter dari permukiman warga. Sedangkan ini jaraknya hanya 50 meter,” ungkapnya.

Sementara itu, Ali Mukhsan pemilik kandang ayam menerima hasil audiensi yang dilakukan oleh warga, pemerintah desa, hingga Camat Mejobo. Ia sepakat untuk menuntaskan panen ayamnya terlebih dahulu.

“Harapannya bahwa setelah panennya selesai dahulu. Kemudian kami tidak akan mengisi kandang terlebih dahulu. Kami juga akan berkoordinasi dengan masyarakat lagi, dengan dinas terkait mencari solusi yang baik,” ucapnya.

Sebelumnya diketahui, Sejumlah warga Desa Temulus, Kecamatan Mejobo menggeruduk balai desa setempat, Rabu (16/1/2019). Mereka menuntut agar pihak pemerintah desa menutup kandang ayam milik Ali Mukhsan warga Desa Temulus, karena menyebabkan pencemaran lingkungan.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...