MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Biar Tak Jadi Korban Tengkulak, Ganjar Janjikan Mesin Pengering Cabai

0 249

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo berjanji akan memberikan bantuan mesin pengering cabai. Ini dilakukan untuk mengantisipasi harga cabai anjlok, sehingga petani bisa menjual cabai dalam bentuk lain.

Dengan mesin itu, petani dapat mengolah hasil turunan dari cabai. Sehingga hasil ekonomi yang didapatkan jauh lebih tinggi, dan tak akan ketergantungan dengan tengkulak.

Ini dikatakan Ganjar dalam dalam program Mas Ganjar Menyapa di Puri Gedeh, Selasa (15/1/2019). Tema yang diangkat dalam dialog kali ini tentang anjloknya harga cabai di Jawa Tengah.

Namun ada syarat yang diberikan Ganjar. Yakni petani harus mulai melek teknologi dan inovasi, sehingga petani tak menjadi bulan-bulanan tengkulak.

“Petani kita itu masih tradisional, tahunya panen, selesai. Ditaruh di depan rumah dan siapa mau nebas. Kalau seperti ini terus, maka harga yang dipatok adalah harga pasrah, dan itu dimainkan oleh para tengkulak,” ujar Ganjar.

Oleh karenanya menurut dia, inovasi dan teknologi saat ini dibutuhkan para petani untuk menghindari anjloknya harga komoditi.

Ganjar juga mengatakan akan membantu para kelompok tani dengan mesin-mesin pengeringan cabai. Nantinya, mesin itu dapat digunakan petani untuk pengeringan dan produk turunan lainnya.

“Sehingga kalau ini berjalan, tidak akan ada lagi drama petani membuang cabai karena harganya anjlok,” kata dia.

Sebenarnya lanjut Ganjar ada banyak solusi yang dapat dilakukan oleh para petani untuk mengatasi masalah anjloknya harga komoditi.

Di antaranya sistem tunda jual, sistem resi gudang, menggunakan teknologi pengeringan, pengawetan dengan ozonisasi dan banyak inovasi yang lainnya.

“Bisa juga hasil cabai itu tidak dijual segar, namun diolah menjadi produk olahan seperti aneka jenis sambal. Sudah banyak ibu-ibu di desa-desa yang membuat itu dan itu hasilnya lebih bagus daripada menjual cabai setelah panen secara langsung,” ucapnya.

Untuk mewujudkan hal itu, Ganjar mengaku akan terus menyosialisasikan kepada para petani Jateng untuk berinovasi dan melek teknologi. Selain itu, para penyuluh pertanian dan instansi sektoral juga akan digerakkan untuk membantu merubah mindset para petani.

“Selain itu, kami juga telah bekerjasama dengan Bank Indonesia, Bulog dan Universitas mengembangkan gudang-gudang penyimpanan dengan teknologi ozonisasi,” terangnya.

Di Magelang, sudah ada gudang dengan teknologi ozonisasi. Gudang itu mampu menyimpan cabai selama satu bulan.

”Bayangkan saja, kalau kita bisa menunda penjualan satu bulan, maka harga tidak akan seperti sekarang ini,” tegasnya.

Pemprov Jateng lanjut Ganjar juga akan melakukan penataan tanam jangka panjang untuk mengantisipasi sistem tanam petani yang seragam. Nantinya, akan ada aplikasi yang khusus digunakan untuk mendata para petani, mereka tanam apa, dimana dan kapan panenya.

“Dengan begitu kami bisa memantau dan melakukan pendataan sekaligus antisipasi permainan harga. Hanya saja semuanya itu akan berhasil jika para petani mau ditata dan diatur oleh pemerintah. Kalau masih seperti sekarang petani tanam sembarangan dan seragam, ya akan sulit. Untuk itu sosialisasi akan terus kami giatkan,” tutupnya.

Sementara itu, salah satu petani cabai asal Bergas Kabupaten Semarang, Sutikno menerangkan, sistem yang digunakan para petani saat ini memang masih tradisional. Mereka tanam, panen dan dijual kepada tengkulak.

Selain sudah menjadi kebiasaan, masih banyak petani di Jawa Tengah ini yang belum melek teknologi.

“Untuk kemajuan teknologi, masih banyak petani yang belum bisa menerima secara keseluruhan. Maka kami ini memang perlu pendampingan dan pembinaan secara terus menerus,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.