MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kasus Mulyadi Sita Empati Masyarakat, Pemuda Singocandi Kudus Gelar ’Koin Peduli Kang Mol’

0 737

MuriaNewsCom, Kudus – Pemuda Desa Singocandi Kecamatan Kota menggelar aksi peduli Mulyadi (46) di depan Balai Desa, Kamis (13/12/2018). Mereka mengumpulkan dana donasi sebagai bentuk empati kepada Mulyadi warga Desa Singocandi RT 1 RW 1 Kecamatan Kota yang sebelumnya divonis tiga bulan penjara dan denda lima juta oleh Pengadilan Negeri pada, Rabu (12/12/2018) kemarin.

Vonis yang diterima seorang buruh pabrik tahu itu dirasa jauh dari rasa keadilan. Apalagi perkara yang menjerat Mulyadi adalah srempetan saat berkendara yang sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

Dari pantauan MuriaNewsCom, sejumlah pemuda membawa kardus yang bertuliskan “Koin Peduli Untuk Kang Mol”. Nampak terlihat beberapa pengguna jalan dan warga setempat memasukan uang di kardus tersebut.

Salah satu Pemuda Singocandi Muhammad Fatchul Munif mengatakan, aksi ini adalah bentuk kepedulian terhadap warga Desa Singocandi bernama Mulyadi. Aksi itu untuk meringankan keluarga Mulyadi dan untuk membayar denda sebesar Rp 5 juta setelah divonis PN Kudus bersalah dalam kasus kecelakaan lalu lintas.

“Kami membantu agar bisa meringankan keluarga. Dan juga membayar denda hukuman sebesar Rp 5 juta. Sehingga keluarga bisa tenang dan membayar denda itu,” jelasnya, Kamis (13/12/2018).

Istri Mulyadi, Kusni (Kanan) didampingi pengacara Slamet Riyadi (Kanan) berada di kediaman Mulyadi di Desa Singocandi Rt 1 Rw1 Kecamatan Kota, Kamis (13/12/2018). (MuriaNewsCom/Dian Utoro Aji).

Senada juga diungkapkan oleh Fredy Andrianto Kepala Desa Singocandi. Ia mengatakan bahwa aksi tersebut upaya pemuda desa setempat untuk meringankan keluarga Mulyadi. Apalagi, keluarga seorang Mulyadi adalah keluarga yang pas-pasan.

“Keluarga dari ekonomi kurang mampu. Pak Mul (panggilan Mulyadi) bekerja sehari sebagai buruh tahu. Apalagi ini diberikan denda Rp 5 juta. Dana ini buat bayar denda dan buat keluarganya. Di mana dua anak dari Pak Mul juga masih sekolah,” ungkapnya.

Sementara itu, Istri Mulyadi, Kusni (43) yang kesehariannya sebagai penjahit hanya pasrah menanggapi seorang suaminya yang mendekam di penjara. Ia mengaku, hukuman yang dijatuhkan kepada suaminya tidak adil.

Kini, Kusni bersama dua anak harus menanggung beban hidup. Dua anaknya pertama masih duduk di SMA dan yang kedua masih duduk di bangku kelas 5 MI.

“Kemarin uang sekolah anak-anak sempat menunggak. Dengan terpaksa apabila nantinya kalau ndak ada penghasilan, putra yang masih SMA saya suruh bekerja. Biar bisa bantu perekonomian kelurga setelah bapak menjalani proses hukum,” paparnya.

Ia mengaku, kondisi terakhir Mulyadi terakhir banyak pikiran selama mendekam di penjara. Disebutkan dia, bahwa suaminya berkeinginan untuk bebas dari jeruji besi.

“Kondisi bapak pikiran terus, bapak kurus. Bapak ya pengen metu (berkeinginan keluar). Sudah berusaha namun belum bisa,” jelasnya.

Mulyadi menerima putusan hakim saat persidangan di Pengadilan Negeri Kudus. (ISTIMEWA)

Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri berpendapat bahwa Mulyadi telah terbukti dan bersalah dan meyakinkan melanggar pasal 310 ayat 3 UU tentang Lalu Lintas. Vonis tersebut lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum yakni 10 bulan penjara dan denda Rp 5 juta rupiah. Namun, tetap saja Mulyadi merasa vonis tersebut jauh dari rasa keadilan.

Pengacara Mulyadi, Slamet Riyadi sangat menyayangkan keputusan Pengadilan Negeri. Ia menilai putusan tersebut cacat. Apalagi, menurut dia, Majelis Hukum dirasa berat sebelah.

“Ada yang aneh pada kasus ini. Padahal kedua belah pihak sudah berdamai. Tapi masih dilanjut, ada kasus kecelakaan lain yang lebih besar dan menimbulkan korban jiwa, tapi tidak disidangkan. Saya sangat kecewa dengan keputusan ini. Bahwa putusan ini cacat,” jelasnya, Kamis (13/12/2018).

Ia mengatakan, pihak keluarga saat ini memiliki hak untuk banding. Ia pun mengaku siap untuk mengajukan banding. Bahkan ia mengaku siap mengkoordinir 15 lawyer lainnya.

“Hanya saja memang keputusan untuk banding kami serahkan kepada pihak keluarga. Bahwa kami siap untuk mendampingi, dan ini free. Ini tugas kami sebagai lawyer bentuk pengabdian kami,” ucapnya.

Slamet, menceritakan kasus tersebut berawal saat kejadian kecelakaan lalu lintas pada tanggal 30 Agustus 2018 lalu. Pada saat itu, Mulyadi tengah akan berangkat ketempatnya kerja di Pabrik Tahu yang terletak di Desa Bacin. Namun sesampai di Jalan Sosrokartono depan Alfamart Des Bacin Kecamatan Bae, ia mengalami kecelakaan dengan menyerempet Sulasih warga Desa Getaspejaten Kecamatan Jati.

“Akibat kecelakaan itu, Sulasih harus menjalani perawatan sampai tujuh hari di Rumah Sakit Mardi Rahayu. Mulyadi tidak lantas menutup mata dengan kejadian itu. Dia juga kemudian ikut membantu biaya pengobatan Sulasih dengan memberi uang tali asih sebesar Rp 1.5 juta.  Saat ini Sulasih pun sudah sembuh dan bisa menjalankan aktivitas seperti biasa,” jelasnya.

Keduanya sempat menempuh jalan damai yang dituangkan dalam surat pernyataan damai bertanggal 29 September 2018. Bahkan pernyataan damai itu dilakukan dihadapan penyidik dengan disaksikan 2 orang saksi.

Namun, rupanya penyidik Satlantas Polres Kudus melanjutkan kasus Mulyadi. Selanjutnya Mulyadi harus menjalani penahanan oleh Kejaksaan Negeri Kudus hingga berlanjut pada sidang di pengadilan dan divonis tiga bulan penjara dan denda lima juta oleh Pengadilan Negeri pada Rabu (12/12/2018) kemarin.

Editor: Supriyadi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.