Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Awas! Friend With Benefits Ancam Generasi Milenial di Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Hubungan pertemanan dengan keuntungan atau friend with benefit acap kali membuat miris dan resah para orang tua khususnya mereka yang mempunyai anak perempuan. Istilah ini sebenarnya hanya pembaharuan diksi dari “teman tapi mesra” yang kita kenal terlebih dahulu jauh sebelum istilah ini (friend by benefit) muncul.

Pertemanan yang condong ke arah bebas ini bisa saja menjadi gerbang untuk menuju seks bebas atau malah menjadi sebuah pelecehan seksual. Hal inilah yang bisa saja merusak ataupun menurunkan moral para remaja khususnya di daerah Kudus.

Amana, salah satu mahasiswa di perguruan tinggi di Kudus itu mengaku  mengetahui istilah friend with benefit hanya sebatas pertemanan dekat lawan jenis saja.

“Tau sih, semacam sahabatan lawan jenis gitu, jadi kalo gelisah curhatnya ke dia,” ucap Amana.

Dia menambahkan terkadang ada komitmen apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan dan boleh dilakukan.

“Biasanya ada batasan-batasan, biar tidak baper,” tandasnya.

Sementara itu A.N, mengatakan dirinya sempat terjebak dalam hubungan racun tersebut.

“Tau, dan itu saya hampir kebablasan, dia minta foto saya terus tapi lama kelamaan kok minta agak yang terbuka dan kami bukan sedang berpacaran,” tuturnya.

Dirinya menyarankan agar para remaja khususnya perempuan agar tidak terlalu terbuka dengan teman laki-lakinya.

Di sisi lain, S. Trimo, Selaku Plt Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) mengatakan bahwa fenomena ini sebenarnya sama saja dengan kenakalan remaja pada umumnya jika sudah mulai condong ke arah yang negatif.

“Di KB itu ada progam yang untuk mengedukasi remaja terkait no nikah muda, no seks bebas, dan no narkoba, itu sama saja mungkin dengan pergaulan bebas,” ucapnya.

Dirinya menambahkan bahwa para remaja seharusnya bisa memegang nilai-nilai agamanya masing-masing, dengan begitu para remaja bisa terhindar dari kenakalan-kenakalan remaja yang menjerumuskan.

Sementara itu, Fika, salah satu ibu rumah tangga dari kecatamatan Jati, Kudus mengaku jika dirinya belum tau ada fenomena itu, dia mengatakan jika anaknya tidak pernah bercerita kalau dia punya teman lawan jenis yang dekat dengan anaknya.

“Anak saya smp kelas 3, dia belum pernah cerita kalau punya teman laki-laki yang dekat, tapi kalau tau ada fenomena ini si saya harus lebih sering tanya-tanya lagi ya sama dia,” ucapnya.

Editor : Supriyadi

Comments
Loading...