Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Beras Murah Disebar ke Desa, Jateng Jadi Pilot Project Operasi Pasar Gaya Baru

0 368

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng membuat terobosan baru untuk menekan harga beras. Pemprov Jateng dan Bulog akan menyebar beras kelas medium dengan harga murah langsung ke kios dan warung yang ada di desa-desa.

Sistem ini disebut sebagai operasi pasar gaya baru. Disebut demikian, karena operasi pasar tidak dilaksanakan di pasar melainkan langsung ke desa.

Beras akan langsung dikirim dari gudang Bulog ke kios-kios, warung, dan koperasi di desa. Masyarakat dapat membeli dengan harga lebih murah dari pasar.

Operasi pasar ini akan memutus mata rantai distribusi beras yang biasanya melewati delapan tahap.

“Selama ini perjalanan beras dari petani ke konsumen melewati delapan tahap. Kita potong itu, jadi masyarakat bisa membeli beras lebih terjangkau dengan kualitas yang baik,” kata Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, Kamis (22/11/2018).

Peluncuran beras murah ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama dalam rangka Pendistribusian Cadangan Beras Pemerintah (CBP), melalui Pelaksanaan Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) Beras Medium.

Kesepakatan tersebut ditandatangani Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso dan Ganjar Pranowo di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Komplek Gubernuran Jateng, hari ini.

Dalam kesempatan itu, hadir sekitar 700 kepala desa yang akan menjadi penanggung jawab distribusi beras di daerahnya masing-masing.

“Jadi kades-kades ini yang akan memimpin operasi pasar di desanya. Beras bisa dijual lewat kios, warung, atau kerja sama dengan Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). Tinggal minta berapa ton langsung dikirim,” kata Ganjar.

Sumber beras yang didistribusikan menggunakan cadangan beras pemerintah. Sementara Budi Waseso menyebut cadangan saat ini mencapai 1,2 juta ton. Ia menargetkan 700 ribu ton bisa diserap di Jateng.

“Setidaknya lima ribu ton perhari bisa langsung kita drop ke desa-desa,” terang pria yang akrab dipanggil Buwas tersebut.

Dengan konsep ini, harga beras bisa ditekan. Di pasar, harga beras kualitas medium bisa mencapai Rp 10 ribu, bahkan Rp 11 ribu. Melalui cara baru ini, Bulog menetapkan harga antara Rp 8500 sampai maksimal Rp 9000.

“Kalau Jateng berhasil akan dilanjutkan seluruh Nusantara. Saya minta sepekan ini kita geber lalu evaluasi sehingga didapatkan pola yang semakin bagus,” tekannya.

Pemilihan Jateng sebagai piot project ini menurut Buwas karena Jateng telah menjadi daerah percontohan terkait keberhasilannya dalam pengendalian pangan nasional.

Terbukti, untuk kali ketiga Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendapatkan penghargaan TPID terbaik secara berturut-turut dari tahun 2015 sampai dengan 2017.

“Maka saya tetapkan pilot project di Jateng. Saya yakin berhasil dan pasti akan menyebar ke lain daerah,” paparnya.

Dalam pelaksanaannya, operasi pasar menggandeng juga Polda Jateng. Bersama Pemprov Jateng dan Bulog Jateng, kepolisian akan mengawasi pengiriman dan penjualan beras ke masyarakat.

Editor : Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.