Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Bupati Tamzil Terkesan Meriahnya Festival Ampyang Maulid

MuriaNewsCom, Kudus Tradisi suatu daerah patut digali dan harus dikembangkan. Tidak hanya sebagai daya tarik wisata, tetapi juga sebagai sarana untuk belajar dari leluhur.

Festival Ampyang Maulid adalah salah satu tradisi yang hingga kini masih terjaga dan dijadikan warga Desa Loram Kulon, Kudus, sebagai hal yang sakral. Tradisi ini diperingati sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah dan untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriyah.

Ampyang Maulid berasal dari dua kata yaitu “ampyang” dan “mauled”. Menurut sesepuh Desa Loram Kulon, Ampyang adalah sejenis kerupuk yang dibuat dari tepung, berbentuk bulat dengan warna yang beraneka macam.

Sementara maulid berasal dari bahasa Arab, Walada menjadi bentuk masdar Maulidan yang berarti kelahiran. Jadi, Ampyang Maulid dapat diartikan makanan yang ditata sedemikian rupa dalam suatu wadah yang unik, yang diarak keliling desa oleh masyarakat sebelum menuju Masjid Wali At-Taqwa Loram Kulon.

Ketua Panitia Penyelenggara, Anis Aminudin mengatakan, festival Ampyang Maulid adalah salah satu sarana dakwah bagi masyarakat desa Loram Kulon.

“Tradisi ini merupakan salah satu cara agar masyarakat dapat mencintai rasul Nabi Muhammad SAW, dikarenaka penyelenngaarannya dimaksudkan untuk memperingati lahirnya Nabi Muhammad,” ujarnya.

Pihaknya juga menyebut kegiatan ini merupakan salah satu cara untuk menggali potensi wisata yang ada di Kudus.

“Dengan ditetapkannya Desa Loram Kulon sebagai desa wisata, maka ini adalah kesempatan besar untuk dapat lebih mengembangkan dan menggali potensi yang ada,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kudus H.M. Tamzil mengapresiasi festival Ampyang Maulid. Ia mengaku terkesan dengan Desa Loram Kulon yang telah menjadi desa wisata.

“Saya turut berbahagia desa ini sudah menjadi desa wisata. Ke depan tentu harus kita promosikan secara besar dan harus profesional,” ungkapnya.

Tamzil juga berpendapat adanya lembaga adat dan budaya dapat memperkaya khasanah potensi desa. “Pembentukan lembaga adat dan budaya dapat dijadikan sebagai sarana memperkaya potensi desa,” terangnya.

Usai sambutan, Tamzil menyaksikan kirab yang diikuti elemen masyarakat desa Loram Kulon. Ia juga berkesempatan untuk menyerahkan nasi bungkus daun jati yang telah didoakan untuk selanjutnya dibagikan kepada masyarakat. (nap)

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...