Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kisah Pemuda Demak Magang di Jepang, Gaji Rp 19 Juta Bisa Beli Tanah

0 54.354

MuriaNewsCom, Semarang – Program kerja magang di Jepang kini begitu diminati. Apalagi Pemprov Jateng merencanakan akan mengirim lebih banyak tenaga kerja ke Negeri Sakura itu.

Dari dua kali seleksi yang telah digelar, ribuan pemuda di Jateng telah mendaftar. Mereka ingin mengikuti kisah sukses pemuda-pemuda Jateng lain yang berhasil menimba ilmu dan sekaligus mendapat gaji besar di negara itu.

Saat ini ada ratusan pemuda dari Jateng yang mengikuti program magang di Toyota Industrial & Cultural Center Jepang. Saat bertemu dengan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Jepang, Sabtu (10/11/2018) kemarin, mereka berbagi kisah dan curhat.

Pertemuan tersebut diikuti 200 pemagang dan pelajar Toyota Industrial & Cultural Center Jawa Tengah. Pertemuan itu berlangsung sangat cair dengan banyaknya curhatan kisah menggelitik dari pemagang maupun pelajar.

Zainal Arifin (23), misalnya, warga Kecamatan Karangawen Demak itu mengungkapkan kebanggaannya bisa magang di Jepang. Apalagi ia bisa mendapat ilmu soal mesin langsung di pusatnya.

“Tapi ya itu pak, saya harus merasakan tujuh kali gagal tes seleksi,” kata Zainal yang memancing tawa hadirin.

Ketika ditanya soal gaji, Zainal menjelaskan dalam satu bulan dia mendapat gaji yang besarnya mencapai 140 ribu Yen atau Rp 19 juta. Sambil berseloroh, dia merasa bersyukur dapat gaji sebesar itu.

Meskipun ada teman yang gajinya hampir dua kali lipat 240 ribu/bulan atau sekitar Rp 35 juta. “Lumayan pak, bisa buat beli tanah di kampung,” katanya yang langsung memancing Ganjar dan kawan-kawannya tertawa.

Zainal mengatakan sudah dua tahun ini magang di Pabrik Meiwa Kougyou membuat mesin produksi di provinsi Aichiken, kota Takahamashi. Dengan gaji yang terima, dia setiap bulan mengirim sekitar Rp 10 juta untuk keluarga.

Kepada Ganjar dia mengatakan usai lulus magang di Jepang ingin buka bengkel motor dan mobil yang lengkap.

“Saya kangen rumah, pak. Tapi beruntung ada kawan-kawan yang saling memberi semangat,” ujarnya.

Selain Zainal, ada Nur Faizah. Dia warga Kabupaten Tegal yang telah satu tahun magang di Jepang. Berbeda dengan Zainal yang ingin buka bengkel, usai menyelesaikan program magangnya pada 2021 kelak, Nur ingin mendirikan panti lansia.

“Tapi masih bingung merealisasikannya. Saya seneng bisa bertemu pak Ganjar dan bisa ngomong langsung mengungkapkan impian saya itu. Semoga bapak mensupport semangat buat kami,” katanya.

Saat ini jumlah pekerja asing di kota Toyota mencapai 17 ribu dari seluruh populasi 408 ribu. Peserta magang dan pelajar asal Indonesia sebanyak 878 orang, dan 200 di antaranya berasal dari Jawa Tengah.

Dengan jumlah yang mencapai 5 persen, pemagang dan pelajar Indonesia di sana membuat kelompok belajar Toyota Indonesia Grup (TIG) yang menjadi bagian dari Toyota city global citizens conference yang terdiri 12 negara.

Dengan jumlah tersebut, remitansi atau pengiriman uang dari warga Indonesia di Toyota ke Indonesia perbulan mencapai  490 juta yen atau setara Rp 63,7 miliar. Setahun bisa mencapai Rp 764,4 miliar dan untuk Jateng berkisar Rp 280,8 miliar pertahun.

Kepada peserta magang Ganjar menegaskan agar melakukan pemetaan usaha dari sekarang. Jika memerlukan bantuan lebih. Ganjar juga berpesan agar peserta magang menyusun proposal atau rencana bisnis secara detail, dari pangsa pasar modal, flow pemasaran, lokasi dan lainnya.

“Jangan sampai pulang baru bingung mau ngapain. Maka sejak sekarang buat rencana usaha, sampai Indonesia langsung go,” katanya.

Perbincangan dengan peserta magang maupun pelajar Indonesia di Toyota Industrial dan Cultural Center Jepang berlangsung cukup gayeng. Tidak sedikit peserta yang curhat kangen kampung halaman dan pengalamannya berbagi tugas masak dengan kawan. Di akhir dialog Ganjar menitip pesan agar WNI untuk selalu menjaga kerukunan dengan sesama warga indonesia.

“Sekarang di indonesia sedang musim bertengkar karena beda pilihan politik, banyak hoax, nyinyir dan saling fitnah yang buruk-buruk itu jangan ditiru,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.