Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Puskesmas di Jateng Dikerahkan Cegah Fenomena Mabuk Rebusan Pembalut

MuriaNewsCom, Semarang – Heboh fenomena remaja mabuk rebusan pembalut membuat berbagai pihak langsung turun tangan. Selain BP3KAB yang menerjunkan tim khusus untuk melakukan penanganan, Dinas Kesehatan Jateng juga mengerahkan puskesmas yang tersebar di provinsi ini untuk turun tangan.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yulianto Prabowo kepada wartawan mengatakan, pihaknya akan mengegencarkan sosialiasi terkait dengan bahaya penyalahgunaan pembalut bagi kesehatan manusia ke semua kalangan masyarakat.

“Ini sesuai kewenangan Dinkes untuk melakukan pencegahan. Maka kami akan melakukan sosialisasi terkait bahaya mengonsumsi air rebusan pembalut,” katanya.

Ia menyebutkan, semua jaringan Dinkes Jateng, termasuk puskesmas yang  tersebar di seluruh daerah juga diarahkan untuk melakukan sosialisasi mengenai bahaya dari bahan-bahan yang seharusnya tidak dikonsumsi manusia itu.

Termasuk, mewaspadai terhadap berbagai kemungkinan peristiwa yang terjadi di masyarakat akibat mengonsumsi air rebusan pembalut.

“Ada puskesmas yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Sudah saya arahkan ke teman-teman terutama pantura timur supaya mewaspadai, siap siaga kalau terjadi apa-apa,” ujarnya.

Yulianto memastikan bahwa kandungan klorin dan karsinogenik yang ada di pembalut itu berbahaya untuk dikonsumsi manusia.

“Itukan zat yang tidak untuk diminum dan dikonsumsi, tentu jadi racun dan dalam waktu yang lama akan membahayakan kesehatan,” katanya.

Kemungkinan terburuknya, lanjut dia, adalah bisa menyebabkan kematian karena menyerang organ dalam yakni hati dan jantung.

Baca juga : 

Sementara itu, Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3KAB) Jawa Tengah membentuk tim khusus untuk menangani fenomena yang meresahkan masyarakat.

Seksi Perlindungan Anak BP3AKB Jawa Tengah, Isti Ilma Patriani mengatakan, tim khusus tersebut akan melakukan pendalaman dan pendampingan terhadap anak yang menggunakan rebusan pembalut untuk mabuk.

“Fenomena tak lazim ini memang kerap dilakukan anak-anak jalanan. Mereka melakukan itu karena tidak punya uang,” katanya.

Ia menyebut, dari keterangan para anak-anak jalanan itu diketahui jika mereka meminum air rebusan pembalut wanita untuk melepaskan diri dari tekanan. Menurut dia, remaja dengan usia 13-16 tahun memang punya rasa ingin tahu yang kuat untuk mencoba yang baru. Termasuk hal-hal yang berbahaya.

Pihaknya menyebut, mengonsumsi air rebusan pembalut cukup membahayakan. Karena pembalut wanit mengandung zat klorin berbahaya yang terdapat di dalam gel.

”Meski kasus ini baru ditemukan di beberapa daerah, tapi ini harus segera dihentikan agar tak menyebar ke daerah lain. Kami akan terus mendalami dan melakukan pendampingan karena hal ini dapat merusak generasi muda,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...