Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Ditolak Saat Ajak Hubungan Intim, Remaja Ini Bunuh Teman Gadisnya

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Aksi nekat dilakukan seorang remaja berinisial IA (17) warga Gentan, Kecamatan Baki, Sukoharjo. Ia nekat menghabisi nyawa teman gadisnya yang masih berusia 15 tahun, gara-gara menolak saat diajak berhubungan intim.

Korbannya adalah Retno Ayu Wulandari, warga Begalon, Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Surakarta. Gadis ABG ini dipukul kepalanya menggunakan balok sebanyak tiga kali hingga korban meregang nyawa.

Tak hanya itu, pelaku juga beralasan jika korban menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Namun akhirnya kedoknya terbongkar.

Kasat Reskrim Polres Sukoharjo, AKP Rifield Constantien Baba menceritakan kronologi pembunuhan tersebut. Menurut dia, peristiwa itu bermula pada Kamis (18/10/2018) saat pelaku menjemput korban dan diajak nongkrong dan pesta miras di rumah temannya di daerah Gatak.

Saat sampai korban dipaksa untuk ikut menenggak miras, namun korban menolak. Malam harinya sekitar pukul 22.00 WIB, pelaku kemudian mengajak korban untuk pindah ke dekat penggilingan padi di Desa Trosemi, Gatak. Saat itulah pelaku mengajak korban untuk berhubungan intim, namun korban menolak.

”Emosi karena ditolak oleh korban untuk berhubungan intim, pelaku mengambil batang kayu dan memukulkan ke korban,” katanya Kamis (25/10/2018).

Saat itu pukulan yang dilayangkan pelaku tak sampai membuat korban celaka. Lalu pelaku kembali mengajak korban untuk pindah ke tempat lain yang lebih sepi.

”Pelaku memboncengkan korban menggunakan sepeda motor. Mereka berhenti di tengah sawah yang jaraknya 1 km dari penggilingan padi. Di tempat itu pelaku lagi-lagi meminta korban untuk berhubungan intim,” ujarnya.

Karena kembali menerima penolakan, pelaku semakin emosi dan kemudian menghantam kepala korban menggunakan balok sebanyak tiga kali. Korban langsung terkulai lemas tak sadarkan diri.

”Pelaku sempat menaikan korban yang tak sadarkan diri ke sepeda motor, namun kemudian korban terjatuh hingga akhirnya pelaku meninggalkan korban,” terangnya.

Panik dengan kondisikan korban, pelaku lantas mendatangi salah satu temannya yang masih nongkrong di dekat penggilingan padi. Saat itu pelaku mengaku telah mengalami kecelakaan bersama korban.

”Saksi bernama Hendry memberitahu beberapa saksi lainya dan selanjutnya membawa korban ke RS Dr Oen Solo Baru, total ada sembilan saksi,” terang Rifield.

Pelaku kemudian menyusul ke rumah sakit, dan saat itu diketahui korban sudah meninggal dunia. Saat itu polisi mulai curiga dengan kronologis kejadian yang dikatakan pelaku, dan kemudian mengamankannya.

“Jadi awalnya diakui sebagai kecelakaan lalulintas. Petugas Satlantas curiga dengan luka korban hingga akhirnya menahan pelaku,” lanjutnya.

Penyelidikan petugas Satreskrim makin mengerucut setelah keluar visum dari dua rumah sakit. Kini pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka, dan dijerat dengan pasal tentang perlindungan anak.

“Jadi, masuknya ke anak-anak yang berkonflik dengan hukum. Meski masih anak-anak, pelaku ternyata pernah berkasus di Kota Solo, sehingga bisa dikatakan residivis,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...