MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Menelusuri Sejarah Keberadaan Kelenteng Hok Sioe Bio di Wirosari Grobogan

0 584

MuriaNewsCom, GroboganAda sebuah pemandangan unik yang terdapat di Kecamatan Wirosari, Grobogan. Yakni, keberadaan sebuah tempat ibadah kelenteng yang menjadi satu dengan bangunan sekolah. Tepatnya, Kelenteng Hok Sioe Bio dan bangunan SDN 06 Wirosari.

Keunikan ini bisa dilihat dengan jelas karena lokasinya berada di pinggir jalan raya Purwodadi-Blora. Bangunan kelenteng Hok Sioe Bio yang menghadap ke arah selatan itu letaknya persis di tengah.

Di sebelah kanan kelenteng ada dua ruangan yang dipakai siswa kelas II dan IV. Sedangkan disamping kirinya juga ada dua ruangan yang digunakan siswa kelas VI dan ruang guru. Untuk ruang kelas lainnya dan perpustakaan lokasinya ada dibelakang.

Hingga saat ini, kelenteng itu masih digunakan untuk ibadah. Tapi, aktivitas ibadah biasanya dilakukan setelah kegiatan sekolah.

Baca: Unik, SD di Wirosari Grobogan ini Punya Bangunan Kelenteng dalam Komplek Sekolahan, Ini Sejarahnya

Hingga saat ini, belum diketahui dengan pasti kapan bangunan kelenteng itu didirikan. Namun, dari keterangan warga sekitar, bangunan kelenteng lebih dulu ada. Setelah beberapa tahun, baru mulai dibangun beberapa ruang untuk sekolahan.

Ketua Yayasan TITD Hok Sioe Bio Wirosari Don Supriyadi menyatakan, lahan untuk kelenteng itu sebelumnya merupakan milik pribadi atas nama Yuhindra Nyata Saputra (Njoo Joe Hien). Kemudian, pada sekitar tahun 1950 tanah itu diserahkan atau diwakafkan untuk kegiatan sosial hingga akhirnya didirikan bangunan kelenteng serta tempat menyimpan keranda yang dipakai saat ada warga yang meninggal.

Sekitar tahun 1955, di samping lokasi kelenteng didirikan sekolah dasar bagi masyarakat sekitar yang dikenal dengan nama SD Hoktik.

“Adanya SD ini mendapat sambutan positif dari masyarakat karena tidak perlu jauh-jauh menyekolahkan anaknya,” jelasnya.

Namun, aktivitas sekolah itu terhenti sekitar tahun 1965 saat terjadi peristiwa G30S/ PKI. Meski berhenti, namun bangunan kelas serta sarana dan prasarana belajar masih ada didalamnya.

Pada tahun 1966, UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Wirosari mengirimkan surat peminjaman gedung atau ruang kelas untuk SD baru. Yakni, SDN 6 Wirosari. Surat peminjaman itu dikirimkan tanggal 11 Maret tahun 1966. Menurutnya, sampai saat ini, masih ada saksi hidup yang mengetahui proses peminjaman gedung sekolah itu.

“Kami juga ada data, aset apa saja yang dipinjam waktu itu. Mulai, papan tulis, meja, kursi, dan lainnya. Suratnya masih tersimpan. Jadi, lahan kelenteng itu memang pada prinsipnya milik kami (yayasan),” katanya.

Editor: Supriyadi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.