Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kemarau Panjang, Panen Garam di Desa Jono Grobogan Melimpah

MuriaNewsCom, Grobogan – Datangnya musim kemarau ternyata membawa berkah tersendiri bagi para pembuat garam di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo. Ini karena, pada saat seperti ini produksi garam bisa dipastikan makin meningkat.

”Ya, kalau musim panas begini, kami pasti punya banyak stok garam. Itu karena, pembuatan garam bisa cepat jadi,” Wasimin, salah seorang pembuat garam di desa tersebut, Kamis (27/9/2018).

Menurutnya, melimpahnya produksi aram itu terjadi karena pada musim panas ini waktu produksi bisa lebih singkat. Saat cuaca terik seperti ini, proses produksi garam hanya butuh waktu sekitar lima hari.

Kondisi ini berbeda jika melakukan produksi garam saat musim hujan tiba. Pada musim penghujan proses produksi garam bisa memakan waktu 10 hingga 15 hari.

”Karena tiap hari cuacanya panas sekali maka waktu pembuatan garam bisa makin cepat. Hanya dalam waktu lima hari, air di dalam klakah (belahan bambu) sudah mengkristal jadi garam,” ujar pria yang sudah belasan tahun membuat garam itu.

Mulsim, petani garam lainnya menyatakan, saat kemarau, produksi garam bisa naik 50 persen dibandingkan ketika musim hujan. Sejak kemarau datang, petani bisa panen tiga hingga empat kali dalam kurun waktu sebulan. Selain itu, mutu garam saat kemarau dinilai jauh lebih baik.

“Kalau pas musim hujan, panennya 1-2 kali saja sebulan. Jadi, ada peningkatan sekitar dua kali lipat produksi saat kemarau,” jelasnya.

Saat kemarau, para petani garam rata-rata bisa dapat hasil sekitar 80-100 kg tiap kali panen. Garam tersebut bisa dijual dengan harga Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per kilonya.

Petani garam di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo sedang melangsungkan panen. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Masa panen garam dilakukan setelah kondisi klakah terlihat penuh butiran berwarna putih. Garam yang sudah terlihat pada klakah ini kemudian dikeruk berikut air yang tersisa dan dimasukkan dalam ember.

Garam yang sudah dipanen kemudian dimasukkan dalam karung yang sudah disiapkan sebelumnya. Sedangkan sisa air dalam klakah yang tidak ikut mengkristal jadi garam, tidak dibuang tetapi ditaruh dalam jeriken maupun gentong plastik atau tanah liat.

Oleh petani garam dan warga setempat, sisa air yang tidak jadi garam ini dinamakan bleng. Cairan bleng bisanya laku Rp 17 ribu per jeriken kapasitas 20 liter.

“Jadi hasil panen disini ada dua macam. Yakni, garam dan bleng yang biasa dipakai untuk bahan membuat kerupuk,” jelas Kades Jono Eka Winarna.

Menurut Eka, garam made in desanya dinilai tidak sama dengan produk serupa yang dibikin dari air laut. Dari segi fisiknya, garam Jono warnanya tidak seputih garam laut karena terlihat putih agak kecoklatan. Disamping itu, garam Jono bentuk butirannya sedikit lebih besar dari garam laut.

Dari segi rasa, lanjutnya, garam Jono juga dinilai lebih enak. Rasa garam Jono, tidak seasin garam laut dan sedikit ada rasa gurihnya.

“Coba saja dicicipi sejumput. Rasa garam Jono ada gurihnya. Tidak seperti garam laut yang dominan asinnya,” katanya.

Menurut Eka, rasa gurih itu bisa jadi disebabkan adanya beberapa kandungan mineral yang ada pada garam Jono. Termasuk kandungan zat alami yang bisa memunculkan bleng atau bahan pengawet makanan. Bleng ini, didapat dari sisa air dalam belahan bambu yang tidak bisa mengkristal jadi garam.

Ditambahkan, hasil produksi garam warga Jono selama ini tidak hanya dinikmati warga setempat saja. Tetapi juga warga lainnya disekitar Desa Jono.

Garam Jono tidak hanya dipakai untuk kebutuhan rumah tangga saja. Tetapi, banyak juga warung makan di wilayah Kecamatan Tawangharjo yang menggunakan garam dari tanah itu.

Editor : Supriyadi

Comments
Loading...