MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Laporan Langsung dari Nay Pyi Taw, Myanmar

Tunggal Kadet Putra Indonesia Kalah di Babak Penyisihan

0 189

MuriaNewsCom, Nay Phi Taw – Timnas Tenis Meja Indonesia gagal memenuhi angan-angan untuk meraih medali di kejuaraan pingpong Asia bertajuk ’’The 24th Asian Junior and Cadet Table Tennis Championship’’ di Nay Phi Taw, Myanmar, Kamis (16/8/2018). Itu terjadi setelah dua wakil Indonesia yakni Rafanael Nikola Niman dan Hafidh Nuur Hannafi gagal lolos dari babak penyihan.

Nael yang bermain dua kali harus tertahan di posisi runner up grup 5. Ia menelan satu kekalahan dan satu kemenangan. Yakni melawan Park Gyeongtea wakil dari Korea Selatan kalah 0-3 dan menang dari wakil Thailand, Saelee Puripong dengan skor 3-2.

Sementara Hafidh yang tergabung dalam grup 4, dipaksa berada di dasar klasemen setelah kalah dari Khayam Radin wakil dari Iran dengan skor 0-3 dan 2-3 dari Quek Young Izaq, wakil dari Singapura. Padahal dua pemain ini diprediksi bisa lolos fase grup mengingat keduanya bermain menawan saat di kejuaraan pingpong ASEAN di Filipina.

Meski finish di posisi runner up grup, tapi Rafanael Nikola Niman gagal melaju ke babak selanjutnya karena hanya juara grup yang diambil. (MuriaNewsCom/Supriyadi)

Manajer Timnas Tenis Meja Indonesia Soegeng Oetomo Soewindo mengatakan, dua pemain tersebut sebenarnya bisa menang mudah jika mental mereka tertata. Hanya saja, karena lawan lebih pintar memainkan ritme permainan, keduanya kehilangan momen dan bisa dikalahkan. ’’Mungkin mereka grogi. Padahal kemampuannya bagus,’’ katanya usai melihat pertandingan di babak penyisihan.

Ia menjelaskan, saat bermain di pertandingan kedua, baik Nael ataupun Hafidh sebenarnya bisa bermain bagus. Keduanya bisa membalikkan kemenangan. Bahkan Nael bisa memenangkan laga meski sebelumnya tertinggal. ’’Kalau Hafidh sama. Tapi, ia tak bisa menguasai diri saat menang. Rasanya serba terburu-buru,’’ ungkapnya.

Hal itu, lanjutnya, membuat permainan berantakan. Karenanya, mental sebagai pemenang harus ditanamkan sejak dini. Salah satunya dengan mengikuti berbagai even, termasuk even nasional dan internasional. ’’Tapi kalau sebagai timnas memang harus seleksi. Di sini kemampuannya harus dibuktikan. Karena tak semua atlet bisa dipanggil,’’ tegasnya.

Di satu sisi, ia mengakui kekuatan para pemain lawan. Terlebih lagi pemain Korea Selatan, Taiwan, Jepang, Cina, dan Iran memiliki kualitas yang sangat bagus. Bahkan pemain dunia juga berasal dari Cina. Hal ini tak lepas dari berbagai peran. Salah satunya teknologi. ’’Misalnya saja, pemain merekam pertandingan lawan, kemudian dipelajari,’’ tandasnya.

Editor : Deka Hendratmanto

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.