Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Laporan Langsung dari Nay Pyi Taw, Myanmar

Kandas dari Jepang, Tim Beregu Kadet Putra Kubur Angan-angan ke Perempatfinal

0 415

MuriaNewsCom, Nay Pyi Taw – Tim beregu kadet putra Indonesia dipaksa mengubur angan-angan untuk melaju ke perempatfinal kejuaraan pingpong Asia ”The 24th Asian Junior dan Cadet Table Tennis Championship 2018” di Wunna Theikdi Indoor Stadium, Nay Phi Taw, Myanmar.

Itu terjadi setelah Garuda Muda ditundukkan tim Jepang dengan skor 0-3. Kekalahan terasa begitu menyakitkan lantaran. Apalagi, tim beregu kadet putra merupakan tumpuan awal setelah Juli lalu mereka berhasil mempersembahkan perunggu di kejuaraan ASEAN di Filipina.

Hafidh Nuur Annafi yang dipercaya bertanding di awal laga dipaksa mengakui keperkasaan Tim Matahari Terbit. Meski begitu, ia berhasil memberikan perlawanan sengit hingga membuat pemain Jepang menguras keringat.

Kegigihan Hafidh juga diikuti partnernya, Rafanael Nikola Niman. Pemain asal Jakarta ini pun membuat pemain Jepang kalang kabut dengan reli panjang dengan poin 3-1. Hanya saja, hal itu belum cukup.

Di set ketiga Hafidh yang dipasangkan dengan Rafanael pun tak berkutik. Mereka dihabisi dan didepak secara paksa untuk ikut berebut gelar.

Pemain Indonesia, Rafanael Nikola Niman berusaha menerima bola dari pemain Jepang. (MuriaNewsCom/Supriyadi)

 

Pelatih tim putra Indonesia, Agus Fredi Pramono mengakui kekuatan Jepang. Meski begitu ia juga mengapresiasi kegigihan anak asuhnya. Terlebih lagi, mereka berhasil membuat para pemain Jepang bertarung dengan semua skill yang dimiliki.

”Iya kita kalah dari Jepang. Skornya 0-3. Tapi pemain sudah menunjukkan perlawanan yang begitu sengit. Dengan hasil ini pemain bisa semakin mengukur baju dengan kekuatan yang dimiliki,” katanya.

Tak hanya ukur baju, lanjut Fredi, pemain Indonesia juga tak bisa bersantai-santai jika ingin terus berkembang. Apalagi, di luar sana, masih banyak pemain yang lebih bagus dan pintar dibandingkan Jepang.

”Dengan begini, kalau ada yang mau bersantai-santai harus berfikir dua kali. Kalau tetap santai, bisa jadi mereka semakin ketinggalan,” tegasnya.

Disinggung terkait  harapan untuk meraih prestasi, Fredi mengaku masih berharap dari kelas perorangan. Ini lantaran, masih banyak pemain yang belum bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya karena berbagai faktor.

”Kalau di perorangan tentu mereka lebih bisa untuk mengeksplore kemampuan yang dimiliki. Kita tunggu saja nanti. Siapa tahu, hasil drawing dari panitia mempertemukan pemain Indonesia dengan pemain yang sepadan,” tambahnya.

Editor: Deka Hendratmanto

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.