Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Laporan Langsung dari Nay Pyi Taw, Myanmar

Berkunjung ke Nay Pyi Taw, Ibukota Baru Myanmar yang Sepi Bak ”Kota Hantu”

0 3.296

MuriaNewsCom, Nay Pyi Taw – Pemred MuriaNewsCom Deka Hendratmanto dan Redaktur Supriyadi berkesempatan berkunjung ke Nay Pyi Taw, ibukota baru Myanmar, yang menjadi tuan rumah kejuaraan pingpong Asia bertitel ”The 24th Asian Junior and Cadet Table Tennis Championship 2018”. Kebetulan keduanya menjadi bagian dari tim ofisial timnas pingpong Indonesia yang dikirim PP PTMSI ke kejuaraan yang diselenggarakan oleh Asian Table Tennis Union (ATTU) tersebut.

Pusat pemerintahan Myanmar dipindahkan ke Nay Pyi Taw (dibaca Naypyidaw) sejak 6 November 2005 dan diumumkan secara resmi pada hari jadi militer Myanmar, Maret 2006. Secara geografis, Nay Pyi Taw berjarak 320 kilometer di sebelah utara ibukota lama, Yangon.

Butuh waktu lima jam bagi MuriaNewsCom untuk mencapai kota ini dari Yangon International Airport dengan mengendarai bus. Meski memiliki bandara sendiri, tapi tidak banyak rute penerbangan internasional yang dilayani Nay Pyi Taw Airport. ”Kebanyakan rute penerbangannya memang domestik,” tutur Lonai, seorang pemandu perjalanan, kepada MuriaNewsCom dalam bahasa Inggris.

Meski sudah lebih dari 10 tahun menjadi pusat pemerintahan, jangan bayangkan jalanan kota ini macet seperti pusat pemerintahan di negara lain. Seperti Jakarta, misalnya. Alih-alih macet, MuriaNewsCom malah mendapati jalanan kota Nay Pyi Taw yang lengang.

Dengan lebar jalan antara enam hingga delapan lajur,plus median jalan selebar dua mobil, tidak banyak pengguna jalan berseliweran di sini. Di banyak ruas jalan, MuriaNewsCom malah mendapati pekerja yang membersihkan taman di median jalan ataupun menyapu sampah di bahu jalan.

Di malam hari, suasana kota ini tampak semakin lengang. Begitu lengangnya sampai tidak ada suara kendaraan yang terdengar dari kejauhan. Yang terdengar di telinga hanyalah hembusan angin malam yang cenderung kencang dan lolongan anjing kampung yang populasinya memang cukup banyak di sini.

Jalanan di Ibu Kota Nay Pyi Taw terlihat lengang dari aktivitas berkendara meskipun memiliki empat lajur. (MuriaNewsCom/Supriyadi)

Tak heran jika di banyak literasi yang dibaca MuriaNewsCom sebelum berangkat, Nay Pyi Taw dijuluki ”Kota Hantu” barangkali karena terlalu sepinya kota ini. Meski demikian, fasilitas di kota ini tak buruk-buruk amat. Dalam catatan MuriaNewsCom, banyak hotel yang levelnya bintang lima, bertebaran di kota ini.

”Kalau ada acara kenegaraan, hotel-hotel itu penuh semua,” kata Ketua Umum PP PTMSI Komjen Pol (Purn) Oegrosenosaat berbincang ringan dengan MuriaNewsCom, beberapa saat sebelum melepas kontingen di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Berbeda dengan hotel bintang lima, tak banyak pusat perbelanjaan ditemui di sini. MuriaNewsCom hanya menemukan dua pusat perbelanjaan yang lokasinya berdekatan, dengan salah satunya adalah yang terbesar di sini. Itupun tenant-nya kalah sangar dibandingkan pusat perbelanjaan di Semarang sekalipun. ”Sebenarnya ada satu lagi tapi agak jauh dari sini,” terang Lonai.

Suasana jalan raya Nay Pyi Taw di malam hari pun begitu lengang dan cenderung mencekam.(MuriaNewsCom/Deka Hendratmanto)

Selain spot untuk turis, pemerintah setempat juga membangun sebuah museum. Akan tetapi, tetap saja sepi. Padahal pembangunan terbilang fantastis. Ada rumor yang menyebutkan kalau investasi pemerintah untuk mempercantik ibukota baru ini diambilkan dari hutang luar negeri. Jumlahnya mencapai miliaran rupiah.

Di sisi lain, meskipun Myanmar terbilang sepi dan berada di bawah Indonesia, namun nominal mata uang Myanmar dengan kode MMK (Myanmar Kyats) jauh lebih besar dari rupiah IDR (Indonesian Rupiahs). Jika dibuat perbandingansederhana, MMK 1 setara dengan IDR 10.

Biaya hidup di Nay Pyi Taw kurang lebih sama dengan biaya hidup di Jakarta.Sebagai gambaran saja, ongkos taksi dengan jarak sekitardua kilometer, kita harus membayar MMK 5.000 atau IDR 50.000. Sementara untuk makandi restoran, kita harus menyiapkan minimal MMK 5.000 atau IDR 50.000 di luar minum.

Editor: Deka Hendratmanto

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.