Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Penampilan Apik Sha Ine Febiryanti saat Monolog Cut Nyak Dhien Pukau Ratusan Penonton di Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Penampilan apik Sha Ine Febriyanti berhasil memukau ratusan penonton di Gedung Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) Kamis (28/6/2018) malam. Sha Ine Febriyanti yang juga seorang sutradara Indonesia menghadrikan pentas monolog Cut Nyak Dhien di acara FASBuK.

Pentas monolog Cut Nyak Dhien mengangkat sisi perempuan Cut Nyak Dhien sebagai seorang istri dan ibu yang juga goyah ketika kehilangan orang terkasih dalam kehidupannya. Hanya saja, Cut Nyak Dhien yang dikenal sebagai seorang perempuan pejuang perkasa tak pernah menunjukkan kepedihan hati maupun dukanya saat ditinggal pergi orang yang dikasihinya. Terutama saat ditinggal sang suami, Teuku Ibrahim ataupun Teuku Umar.

Sebagai seorang ibu, Cut Nyak Dhien harus tetap terlihat tegar di depan anaknya, juga di depan mereka yang membutuhkan tuntunan dan kepemimpinannya.

Sebagai seorang istri, Cut Nyak Dhien acap kali gelisah ketika suaminya pamit ke medan perang. Terlebih lagi tak terdengar kabar keberadaannya. Meski dirinya memahami risiko yang akan dihadapi suaminya berhadapan dengan para khape di medan juang, Cut Nyak Dhien tetaplah perempuan yang punya rasa, yang hatinya hancur, dan menangis kala yang datang adalah kabar duka.

Setelah kematian Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bangkit untuk meneruskan jejak dan semangat juang suaminya. Ia bergerilya bersama pasukannya hingga dirinya ditangkap dan dijauhkan dari tanah kelahirannya, diasingkan ke pulau Jawa.

Selain pentas monolog Cut Nyak Dien, Sha Ine Febriyanti juga melakukan workshop kepada para pengunjung. Dalam workshop, pengunjung diberikan materi tentang pemeranan dan pengkreasian dalam teater monolog. Sha Ine Febriyanti yang telah berpengalaman dalam dunia seni peran. Ia  berbagi semangat, ilmu dan segala hal kaitannya dengang teater untuk memunculkan para bibit-bibit baru di generasi berikutnya.

Sha Ine Febriyanti mengatakan kisah perjungan Cut Nyak Dhien memberikan inspirasi bagi dirinya. Hal tersebut yang kemudian menggerakan Sha Ine Febriyanti memperkenalkan cerita Cut Nyak Dhien kepada khalayak umum.

“Dari Cut Nyak Dhien, kita belajar tentang keberanian, prinsip serta perlawanan sekuat-kuatnya dan tak henti,” ujar Sha Ine Febriyanti, Aktor dan Sutradara Monolog Cut Nyak Dhien.

Ia mengatakan, pentas di Kudus ini adalah pentasnya ke lima membawakan monolog Cut Nyak Dhien. Pentas sebelumnya di empat kota di Indonesia yakni Bali, Makasar, Solo, dan Surbaya.

“Masih ada lima kota selanjutkan yang akan saya pentaskan monolog Cut Nyak Dhien yakni Tasikmalaya, Bandung, Medan, Padang Panjang, dan terkahir di Padang,”ujar Sha Ine Febriyanti nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik Festival Film Indonesia 2016.

Ketua Badan Pekerja FASBuK, Arfin AM menjelaskan FASBuK yang berdiri sejak 12 Januari 2009. Setiap bulannya FASBuK rutin menggelar acara sastra dan seni budaya. Ia menilai kehadiran Sha Ine Febriyanti menarik bagi pihaknya.

“Kehadiran Sha Ine Febriyanti di Kudus dengan membawakan pentas monolog ini, tentunya memberikan pengalaman menarik bagi kami. Totalitas Sha Ine Febriyanti dalam membawakan monolog ini juga patut diacungi jempol dan workshop yang diadakan pun mendapat antusias yang luar biasa dari generasi muda di Kudus,” kata Arfin AM.

Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) yang bekerja sama dengan Kajian Kreativitas Seni Obeng Fakultas Teknik Universtas Muria Kudus serta MuriaNewsCom ini diharapkan mampun menjadi aset keberagaman kebudayaan nasional. Terlebih lagi dengan penampilan monolog itu, dapat memberikan pengetahuan mengenai sosok Cut Nyak Dhien. Serta menginspirasi masyarakat luas melalui semangat dan kegigihan yang dimiliki Cut Nyak Dhien.

“Nantinya mampu menjadi aset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat dengan masyarakat sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur. Tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya. Kami harap ke depannya semakin banyak pelaku seni pertunjukan Indonesia yang mengadakan pentas dan berbagi pengalaman seni di Kudus,” tambah Arfin AM.

Editor : Supriyadi

Comments
Loading...