Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Lhooo, Ternyata Ini Awal Mula Adanya Tradisi Dandangan di Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Tradisi dandangan menjadi tradisi rutin tahun masyarakat Kabupaten Kudus menyambut bulan Ramadan. Setiap malam tiba, dandangan tak hanya menjadi magnet masyarakat Kudus sendiri, orang-orang luar Kudus pun datang untuk menikmati pernak-pernik dagang yang tersedia di lapak-lapak pedagang.

Namun siapa sangka, asal usul tradisi dandangan ternyata berasal dari sebuah suara pukulan beduk. Konon menurut ceritanya, sebutan dandangan berasal dari suara beduk yang dipukul berbunyi dhang-dhang.  Pemukulan beduk itu, sebagai pengumuman dari Sunan Kudus kepada para umat muslim, bahwa sudah memasuki awal bulan Ramadan.

“Tradisi pemukulan beduk itu sudah ada sejak tahun 956 H, sampai sekarang (1439 H). Itu sebagai tanda awal bulan Ramadan dengan memukul beduk,” jelas Denny Nurhakhim Humas Menara Kudus kepada MuriaNewsCom, Kamis (10/5/2018).

Ia menceritakan dulunya, setiap menyambut awal bulan suci Ramadan, Sunan Kudus mengirimkan utusan yakni para santrinya untuk mengumumkan ke daerah-daerah. Sehingga ada suara dhang-dhang, yang berasal dari bunyi beduk itulah kemudian lebih dikenal dengan dandangan.

“Dhang-dhang itu hanya bunyi suara ditimbulkan pukulan beduk, tidak ada makna atau arti, dan kemudian kata dhang-dhang itu lebih dikenal dengan dandangan,” sambung dia.

Sedangkan, awal mula kemudian ada lapak pedagang yang berjualan. Itu bermula dari taman menara yang dulunya terdapat pasar tradisional. Pedagang-pedang yang berjualan di sekitar taman menara itu diperkirakan setiap malamnya buka. Karena tujuannya membantu para santri ketika mencari makanan untuk sahur.

“Karena dulunya juga pasar di menara itu tidak buka setiap hari, namun hanya hari-hari pasaran saja,” katanya.

Namun, lamban laun perkembangan zaman para pedagang yang berjualan justru tidak hanya berjualan makanan saja. Para pedagang justru berjualan bermacama-macam saat selama dan menyambut bulan suci Ramadan.

“Namun setelah perkembangan jaman, warung tidak hanya menyediakan makanan namun juga suvernir lainnya ada,” beber dia.

Hingga kini, tradisi menabuh geduk tetap dilakukan untuk menyambut bulan suci Ramadan. Hanya saja, menurutnya biasanya yang menabuh beduk adalah remaja dan anak-anak disekitar menara.

Ia pun berharap tradisi menabuh beduk setiap menjelang bulan suci ramadhan tetap dilestarian. Terlebih lagi, di tengah-tengah zaman yang serba modern, namun tradisi seperti itu harusnya tetap dijaga dan dilesetarikan kepada generasi anak muda sekarang.

Editor : Supriyadi

Comments
Loading...