Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Berbekal Mengolah Sampah, BUMDes Kajen Ini Hasilkan Omzet Rp 20 Juta Perbulan

MuriaNewsCom Pati – Berbekal dari sampah yang dikumpulkan dari warga Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat mempunyai omzet Rp 20 juta perbulan. Pendapatan itu akan terus meningkat ketika ada acara di pondok pesantren terdekat. Sebab, volume sampah yang disahilkan juga semakin banyak.

BUMDes yang dikenal dengan nama `Kadjen` ini mempunyai tiga program yang dimiliki untuk pengembangan usahanya, yakni Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse and Recycle (TPS3R), bank sampah dan jasa angkut sampah.

”Ketiga program tersebut, semuanya saling berkaitan dan menjadi satu kesatuan. Semuanya berkaitan dengan pengelolaan sampah,” ungkap Sekretaris BUMDes Kadjen Muhammad Abdul Karim, Jumat (27/4/2018).

Dia mencontohkan, untuk jasa angkut, ketika sudah berkeliling ke rumah warga, sampah tidak langsung di setorkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan di setorkan dulu ke Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) yang sudah dibentuknya. Kemudian, dari TPS sampah dipilah antara yang organik dan nonroganik.

”Usaha yang kami kembangkan memang seperti itu. Dari hasil mengangkut sampah hingga ke pemilahan smpah ini, juga mempunyai keuntungan tersendiri. Begitu juga dengan bank sampah dan TPS3R,” imbuhnya.

Dari hasil pengelolaan sampah tersebut, BUMDes bisa mengahasilkan omzet sekitar Rp 15 hingga Rp. 20 juta per bulannya. Apabila volus sampah yang dihasilkan semakin banyak, maka omzet BUMDes juga semakin bertambah.

”Untuk pengelolaan BUMDes itu, sampai saat ini kami sudah mempunyai 15 karyawan. Sebelumnya, yang ingin bergabung hanya sedikit. Dengan tenaga yang sedikit, tentunya kami juga kewalahan, sehingga perlahan banyak juga warga yang ingin bergabung,” terangnya.

Untuk menjaga profesionalitas kerja, pihaknya juga menerapkan sistem kehadiran menggunkan fingerprint.  Jam kerjanya sendiri adalah mulai dari 08.00 hingga 16.00 Wib. Karyawan juga diberikan waktu libur pada hari minggu.

Sedangkan untuk pemasaran sampah itu sendiri, pihaknya masih mengandalkan sistem penjualan barang mentah kepada suplier. Meski begitu, pembeli dengan harga tertingggi tetap menjadi incaran Kadjen.

Dia berencana untuk membuat sampah-sampah itu menjadi kerajinan, sehingga mempunyai nilai jual tinggi. Untuk memulainya, saat ini sudah banyak karyawan yang berinovasi untuk membuat meja maupun souvenir dari limbah botol.

”Produk kerajian yang sudah kami hasilkan, seperti meja dari botol bekas, souvenir dari tutup botol bekas dan berbagai kerajinan yang lain,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...