Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Di Kebun Raya Indrokilo Boyolali, Air Hujan Diolah Jadi Air Siap Minum untuk Pengunjung

MuriaNewsCom, Boyolali – Kebun Raya Indrokilo Boyolali (KRIB) mempunyai fasilitas yang sangat jarang ada di tempat umum lainnya di Indonesia. Fasilitas tersebut yakni keran-keran air siap minum yang tersebar di sejumlah titik di kebun raya.

Air-air yang ada di fasilitas tersebut sudah dipastikan higienis dan layak minum. Kerennya lagi, air minum ini merupakan hasil pengolahan dari air hujan. Fasilitas itu diberi nama Elektrolisa Banyu Udan (EBU) atau instalasi pengolahan air hujan menjadi air siap minum.

Fasilitas ini dikhususnya untuk para pengunjung kebun raya yang berada di Kelurahan Kemiri, Kecmatan Mojosongo, Boyolali tersebut. Setiap pengunjung dapat memanfaatkan air minum ini secara gratis.

Totok Eko Y.P, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Boyolali menyebut, fasilitas itu dibangun untuk memanen air hujan sekaligus sebagai saran edukasi kepada pengunjung. “Pemanen air hujan ini dibangun untuk edukasi tentang lingkungan hidup. Airnya bisa dimanfaatkan oleh pengunjung,” katanya dikutip dari Solopos.com, Selasa (24/4/2018).

EBU adalah proses untuk meningkatkan kualitas air hujan dengan sistem elektronik. Air hujan ditampung dan disaring lalu dimasukkan ke alat eletrolisa kemudian dialiri listrik. Proses elektrolisa untuk 2 liter air dibutuhkan waktu 3 jam agar PH air mencapai PH 9.

Air bersih layak minum mempunyai darajat keasaman PH (potenty of hydrogen) antara 6,5-9. Air yang telah dielektrolisa tak perlu dimasak karena bisa langsung dikonsumsi.

Instalasi EBU ini berada di dekat gedung E-House atau gedung untuk pengelola kebun raya Indrokilo Boyolali. Di sekitar fasilitas EBU tersaji informasi mengenai pengolahan air ini antara lain hasil proses ini adalah air basa dan air asam.

Pengunjung mencoba air siap minum dari pengolahan air hujan di Kebun Raya Indrokilo Boyolali. (Pemkab Boyolali)

Pada papan informasi EBU dijelaskan, proses elektrolisa adalah proses mengubah molekul air dengan aliran listrik pada elektroda menjadi 2 ion yantu ion H2 yang bermuatan listrik positif dan ion O2 yang bermuatan listrik negatif.

Terdapat beberapa perangkat pada pemanen/penyaring air hujan di Kebun Raya Indrokilo Boyolali, di antaranya instalasi pipa dan bak penampung. Air hujan yang jatuh ke atap mengalir ke talang yang ditampung ke saringan pertama yakni saringan daun.

Saringan ini akan menghalau kotoran-kotoran yang terbawa air hujan dari talang seperti daun, kerikil, dahan dan lain-lain. Jika kotoran-kotoran ini terbawa ke proses selanjutnya akan menyebabkan penyumbatan sehingga proses jadi tidak lancar.

Setelah air masuk ke dalam saringan daun, air hujan masuk ke dalam pipa saringan kedua untuk menyaring debu kasar. Selanjutnya air masuk ke penyaringan ketiga yakni penyaringan debu halus agar air benar-benar bersih.

“Pertama, air hujan ditampung di atap Ecological House (E-House), selanjutnya akan difilter yang kemudian dielektrolisa di ruang EBU sehingga menghasilkan air asam dan basa,” ujar Kabid Pengendalian, Pencemaran dan Perusakan Lingkungan DLH Boyolali, Eko Dodi Aprianto, dilansir dari situs resmi Pemkab Boyolali.

Dari air asam yang tercipta, terang Dodi, kemudian disimpan di tangki air untuk dapat diminum secara langsung oleh pengunjung. Sedangkan untuk air basa, akan digunakan sebagai pupuk tanaman penghuni KRIB.

Fasilitas ini dibangun dengan dana sekitar Rp 200 juta. Saat ini baru ada tiga keran yang bisa dimanfaatkan pengunjung. Ke depan akan ada penambahan keran air minum langsung yang  berasal dari pengolahan air hujan pada penganggaran selanjutnya.

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...