Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Gus Mus Soal Ajaran Sunan Kudus: Yen Siro Landep Ojo Natoni

MuriaNewsCom, Kudus – Masjid al-Aqsha Kudus tengah berulang tahun. Warisan Sunan Kudus itu, kini menginjak umur 469 tahun, setelah didirikan pada Selasa Legi 19 Rajab 956 Hijriyah atau 23 Agustus 1549 Masehi.

Peringatan berdirinya masjid yang memiliki paduan arsitektur gaya Jawa Kuna dan Kubah ala negeri Palestina itu, diselenggarkan pada malem Jemuwah Legi 19 Rajab 1439 Hijriyah. Atau, bila dikonversi ke tarikh masehi  jatuh pada hari Kamis malam 5 April 2018.

Layaknya sebuah peringatan, acara tersebut penuh gempita namun jauh dari kesan hura-hura. Suasana Gedung Menara di Jl Sunan Kudus 194 ramai dengan santri-santri berkoko putih, sarungan dan beriket. Ratusan orang itu tak lain adalah para tamu yang diundang panitia untuk ikut dalam pesta yang bertajuk Jagong Gusjigang.

Setelah para undangan memenuhi Gedung Menara, acara pun dimulai. Pesta dimulai dengan hiburan Shalawat Emprak yang datang dari bumi Mataram, Yogyakarta. Setelahnya, ada KH. Saifudin Luthfi yang meriwayatkan, bagaimana umur masjid tersebut diketahui dari sebuah prasasti yang terpasang diatas Mihrab Imam.

Syahdan, prasasti tersebut berasal dari Palestina. Mbah Ipud, sapaan akrab Saifudin Luthfi mengatakan, dalam prasasti tersebut terdapat sebuah kode yang mengungkap tanggal berdirinya Masjid al Aqsha atau yang lebih kondang dengan Masjid Menara itu.

“Masjid ini dibangun oleh Ja’far Shadiq di Al Quds yang kini bernama Kudus. Ia (Sunan Kudus) meninggalkan warisan peradaban untuk kita yang hidup pada saat ini,” tuturnya.

Setelahnya ada Thomas Budi Santoso. Ia menghadiahkan bait-bait puisi, yang dicuplik dari antologi puisi sastrawan Kudus, “Berawal dari Al Quds”. Hadiah selanjutnya diberikan oleh Sosiawan Leak.

Thomas Budi Santoso membacakan puisi di acara jagong Gusjigang. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Sastrawan asal Surakarta ini meriwayatkan ajaran-ajaran Sunan Kudus melalui puisi “spontan”, yang dibacakannya tanpa tuntunan teks. “Gusjigang-Gusjigang…yen sira landep aja natoni, yen sira banter aja nglancangi, maka kota barukan negeri ini seperti al Quds di Palestina dengan keagungan beraneka, dimana setiap laksananya menyimpan sejarah bangsa-bangsa. Dari Ibrahim sampai Isa hingga Muhammad terbang ke surga dari Az-Zahra kubahnya. Tahu Az-zahra kan? ya kubah disana (Palestina). Makannya buka buku, orang kudus harus pinter,” selorohnya, yang lantas disambut tawa hadirin.

Kado ulang tahun terakhir, berasal dari KH. Mustofa Bisri atau akrab dipanggil Gus Mus. Kyai sepuh pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang itu, memberi hadiah sebuah pembacaan cerpen anggitanya yang berjudul Gus Ja’far.

Dalam cerpen yang pernah termuat dalam Koran Kompas, Gus Mus mengisahkan pertemuan Kyai mandraguna Gus Ja’far dengan Kyai Tawakal. Dalam kisah itu, Gus Ja’far sebagai anak kyai yang sakti, kerap kali memberikan terawangan mengenai nasib seseorang. Karena mandi bertuah, pemuka agama itu justru dijauhi umatnya, karena takut kata-kata yang disampaikan menjadi nyata.

Di situlah, lalu takdir mempertemukannya dengan Kyai Tawakal, yang kemudian menyadarkannya. Setelah pertemuan itu, Gus Ja’far lebih bijak menggunakan kata-kata dan ramalannya tentang nasib seseorang. Namun, dari situ ia justru banyak didekati oleh umatnya.

Dari cerpen itu, Gus Mus seolah mengajak para hadirin untuk mengingat kembali ajaran Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus. Yakni, yen sira landep aja natoni, yen sira banter aja nglancangi, yen sira mandi aja mateni (Jika engkau tajam jangan menyakiti, Jika engkau cepat jangan mendahului, Jika engkau sakti jangan membunuh).

“Untuk memasukkan hambanya ke surga atau neraka, sebenarnyalah Ia tak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke surga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata pasti akan masuk neraka?. Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik olehnya. Kita ingin berdekat-dekat dengannya, tapi kita tidak berhak menuntut balas kebaikan kita,” kutip Gus Mus, membacakan karyanya.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...