Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Plt Gubernur Jateng Tantang Pemda Naikkan Standar Kemiskinan

MuriaNewsCom, Semarang – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko menantang pemerintah kabupaten/kota di provinsi ini untuk berani menaikkan standar kemiskinan. Terutama daerah-daerah yang tingkat kemiskinannya sudah rendah.

Beberapa daerah di Jateng tercatat mempunyai angka kemiskinan lebih rendah dibanding standar nasional yang mencapai 10,12 persen. Daerah-daerah itu ditantang untuk menaikkan standar kemiskinan, untuk memacu upaya lebih keras untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dia menunjuk contoh Kota Semarang yang kemiskinannya kurang lebih empat persen, yang diukur dengan standar nasional.

“Bagi daerah-daerah yang angka kemiskinannya sudah rendah, saya menyarankan keberanian daerah untuk membuat standar sendiri. Standarnya dinaikkan. Jadi katakanlah kemiskinan dengan standar nasional empat persen, kalau dinaikkan barangkali menjadi 10 persen. Nggak apa-apa. Itu berarti upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lebih keras,” katanya.

Ia menyebut, menaikkan standar diperlukan. Terlebih kategori antara yang miskin dan hampir miskin dengan standar saat ini, sebenarnya masuk kategori miskin.

”Namun, ini belum perlu dilakukan oleh kabupaten/kota yang standar garis kemiskinannya masuk kategori tinggi,” ujarnya.

Ditambahkan, upaya untuk menanggulangi kemiskinan harus dibantu tangan-tangan panjang pemerintah yang ada di tingkat terbawah. Sebab, merekalah yang tahu persis kondisi warganya. Mereka yang bisa memastikan jika warganya yang miskin tidak kekurangan makan, bisa bekerja, dan anak-anaknya bersekolah.

Selanjutnya, Mantan Bupati Purbalingga itu berpendapat untuk memperluas lapangan kerja, pemerintah harus mendorong tumbuhnya UMKM dan investasi, diiringi dengan penyediaan kualitas SDM yang terampil. Bagaimana pun memberikan bekal ketrampilan baik melalui pendidikan formal maupun informal sangat diperlukan.

“Contoh di Salatiga ada pabrik sepatu kekurangan tenaga, sulit merekrutnya  karena kualifikasi tenaga kerja yang ada, yang memenuhi syarat, terbatas. Padahal keterampilan yang dibutuhkan cuma menjahit,” urai dia.

Meski bekal keterampilan yang diberikan sederhana, imbuh dia, tapi itu bisa menjawab kebutuhan tenaga kerja yang tidak bisa ditunda. Sebab, jika investor sudah membangun pabrik di Jawa Tengah tapi tenaga kerjanya sulit, artinya itu menjadi salah satu kendala ramah investasi.

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...