Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Unik, Petani Desa Berugenjang Kudus Gunakan Anjing untuk Basmi Tikus

MuriaNewsCom, Kudus – Gropyokan (membasmi) tikus sudah menjadi hal yang mahfum bagi petani sebelum musim tanam padi dimulai. Pun demikian di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan Kudus, ritual ini wajib dilakukan agar padi terbebas dari hama pengerat itu. Namun ada yang tak lazim, tugas gropyokan kini digantikan oleh hewan berkaki empat, anjing.

Siang itu (Sabtu, 10/3/2018), di pematang sawah Desa Berugenjang, yang berbatasan dengan Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, lima anjing milik Sarmin dikaryakan nggropyok tikus. Dalam tempo sekitar empat jam saja, ratusan tikus dibabat.

Sarmin sendiri adalah warga Desa Mlatiharjo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak. Ia dipanggil oleh Sujono, Ketua P3A Sido Makmur untuk berburu tikus-tikus, yang sedang lelap di gorong-gorong sarang mereka.

Datang pagi hari pada pukul 07.00 WIB, Sarmin seorang rekannya dan kelima anjing-anjingnya lantas bekerja. Tak butuh waktu lama bagi anjing kampung tersebut menemukan mangsa. Jika terlihat hidung si anjing sudah lekat dengan lumpur dan cakarnya mengais, maka tandanya ada hewan pengerat dibaliknya.

Ketika melihat kelakuan itu, Sarmin lantas membantu menyingkap tanah dan haap! Seekor tikus berakhir dalam cengkraman taring anjing.

“Kalau tikusnya kecil, langsung dimakan oleh si anjing. Namun kalau besar tak mau langsung dibuang dan dikumpulkan,” tuturnya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, untuk melatih anjing cakap berburu tikus tak memerlukan waktu lama. Begitu anjing sudah pintar berlari, si pemilik tinggal mengasah kepekaannya dengan hewan buruannya.

Sarmin mengaku memiliki tujuh anjing dirumahnya. Anjing-anjing itu seringkali dikaryakan untuk berburu tikus di berbagai daerah, mulai dari Jepara, Kudus hingga Grobogan, tergantung order.

“Setengah hari (hingga pukul 12.00 WIB) kita dibayar Rp 300.000. Namun kalau sampai di Grobogan ya tambah lagi Rp 50.000 karena jaraknya jauh,” ungkapnya.

Sementara itu, Sujono yang kali itu memanfaatkan jasa Sarmin merasa puas. Ia mengaku sudah dua kali memanfaatkan layanan yang diberikan oleh anjing untuk membasmi tikus.

“Timbang gropyokan  tikus dengan memanfaatkan orang, jauh lebih efektif ini. Soalnya kalau petani sendiri yang kerja, paling tidak membutuhkan 15 orang, belum lagi biaya makan dan sebagainya, uang Rp 500.000 amblas, bahkan lebih,” jelasnya.

Ia menjelaskan, sebagai ketua Pemberdaya Petani Pemakai Air (P3A) Sido Makmur, dirinya diserahi tugas menjaga lahan tani seluas 263 bahu (1 bahu atau bouw 0,7 hektar). Area seluas itu, harus ia jaga terkait pengairannya dan dipastikan bebas dari hama pengganggu.

“Ini tugas saya menjaga 263 bahu, untuk pengairannya. Maka saya inisiatif menggunakan jasa anjing pemburu tikus. Kalau di desa lain belum ada yang pakai,” ujarnya sambil meneruskan pengawasan.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...