Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Mengunjungi ‘Penjara’ yang Sempat Mematahkan Asa R.A Kartini

MuriaNewsCom, Jepara – Raden Ajeng (R.A) Kartini merupakan pejuang emansipasi perempuan asal Jepara. Namun, di balik luasnya pemikiran perempuan yang lahir di Mayong 21 April 1879 itu, ia pernah ‘terpenjara’ oleh adat Pingit.

Salah satu saksi bisu kerasnya adat Jawa terhadap Kartini, adalah ruang kamarnya. Terletak di sisi belakang kompleks pendapa Jepara. Kamar itu memiliki dimensi sekitar 6×5 meter, berlantai tegel warna gelap, dengan daun pintu dan jendela yang tinggi.

Sebelum memasukinya, pengunjung harus melalui sisi kiri pendapa yang kini dijadikan rumah tinggal Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. ‎Nah, ketika telah sampai di ujung bangunan, ruang Pingit berada di sisi kanan, memasuki bangunan utama bagian belakang.

Di bagian selasar luar, terdapat deretan kursi-kursi yang dulu dijadikan kelas, untuk murid-murid Kartini.

Kamar Pingit Kartini sendiri kini dijadikan museum mini. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang, meja lengkap dengan kursi, kacadan beberapa lukisan yang konon lahir dari tangan pejuang wanita itu. Namun sayang, tidak ada barang yang asli, semuanya replika.

Suasana di dalam kamar Pingit ketika ada kunjungan dari siswa-siswi SMA/SMK yang mengikuti pelatihan jurnalistik, pekan lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini menyebut kamar pingitnya itu sebagai penjara. “…penjara saya adalah rumah besar dengan halaman yang luas di sekelilingnya. Tetapi dilingkari dengan dinding yang tinggi yang mengurung saya…,” seperti tertulis di buku Kartini Penyulut Api Nasionalisme.

Hadi Priyanto seorang peneliti R.A Kartini menyebut, kamar Pingit itu sempat menjadi saksi keputusasaan putri dari Bupati Sosroningrat itu. Bagaimana tidak, keinginannya bersekolah ke Hogore Lagere School(HBS) di Semarang kandas, bertubrukan dengan adat (kebiasaan) Jawa saat itu.

“Ketika itu Kartini berumur sekitar 12 tahun. Usianya masih sangat muda, ketika ia harus menjalani pingitan, ketika dirinya tengah gandrung menimba ilmu. Tak ayal hal itu membuatnya sempat patah arang. Di tahun pertama, ia lebih banyak meratap. Menangis,” tuturnya, saat berkesempatan menyambangi ruang Pingit Kartini, akhir pekan lalu.

Menurutnya, Kartini harus dipingit hingga usianya 23 tahun. Atau, ketika ada seorang pria yang meminangnya untuk menjadi istri.

Setelah tahun pertama di dalam kamar Pingit, luka hati Kartini berangsur-angsur sembuh. Ia kemudian ‘bertamasya’ melalui buku-buku yang dipasok ayahnya, melalui kotak bacaan mingguan atau leestrommed. Di sana ia mulai membaca tentang kisah-kisah kebijakan Jawa seperti Wulangreh karya Pakubuwana IV atau Centini. Selain itu kisah tentang Pandita Ramabai asal tanah India dan berbagai sumber bacaan lain, yang memengaruhi pola pikirnya.

“Di kamar Pingit ini, meubel-meubelnya mulai dari ranjang dan sebagainya merupakan tiruan. Yang asli kini berada di Museum Rembang. Hal itu karena setelah menikah dengan Bupati Rembang, seluruh barang dari Kartini dibawa serta,” jelas Hadi.

Namun demikian, seluruh bagian bangunan hampir belum ada yang berubah. Termasuk daun jendela krepyak setinggi kurang lebih dua meter. Pintu dan ruangan dalan juga tidak berubah.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...