Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Semburan di Lokasi Sumur Tua Bendoharjo Grobogan Akhirnya Mampet

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya penutupan semburan gas di lokasi pengeboran minyak di kawasan sumur tua di Dusun Bapo, Desa Bendoharjo, Kecamatan Gabus, Grobogan, akhirnya membuahkan hasil. Setelah berlangsung 22 hari, semburan yang mengeluarkan partikel minyak bercampur air akhirnya terhenti.

Sebelumnya, semburan gas mulai muncul hari Senin (5/2/2018) sekitar pukul 16.00 WIB. Semburan gas bercampur minyak itu keluar dari titik pengeboran yang dilakukan di sumur nomor 22.

Sumur minyak tua peninggalan Belanda itu dieksploitasi Perusda Purwa Aksara Grobogan bekerjasama PT Nureka Jakarta dengan sistim bagi hasil. Aktivitas eksploitasi perdana sumur minyak tua di kawasan hutan milik Perhutani KPH Randublatung itu resmi dimulai pada Senin (27/2/2017) lalu.

Jumlah sumur yang dapat izin eksploitasi totalnya ada 27 titik. Namun, pada tahun ini eksploitasi difokuskan pada lima sumur dulu. Selanjutnya, pada tahun berikutnya eksploitasi akan dilakukan bertahap pada semua sumur minyak tua.

Direktur Perusda Purwa Aksara Grobogan Myra Heltyani ketika dikonfirmasi membenarkan jika semburan di kawasan sumur tua sudah berhasil ditangani.

”Alhamdulillah, semburan berhasil ditutup hari Selasa (27/2/2018) sekitar pukul 17.00 WIB. Saat ini, semburan sudah tidak keluar lagi. Namun, dilokasi masih ada aktivitas untuk menangani dampak semburan kemarin,” kata Myra melalui sambungan telepon, Jumat (2/3/2018).

Kondisi semburan minyak bercampur air yang sempat keluar dilokasi sumur tua di Dusun Bapo, Desa Bendoharjo, Kecamatan Gabus, akhirnya berhasil ditangani. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ia menjelaskan, sebelumnya sudah diupayakan untuk melakukan penutupan begitu muncul semburan di sumur nomor 22 tersebut. Namun, berbagai upaya belum membuahkan hasil karena ada berbagai kendala teknis dilapangan.

Proses penutupan menjadi lebih cepat setelah berhasil mendatangkan alat khusus crawler crane. Namun, untuk mendatangkan atau menyewa alat ini ternyata tidak mudah.

”Alat itu kita datangkan dari Cirebon. Proses mendatangkan alat sampai lokasi dan persiapan pengoperasiannya butuh waktu sampai empat hari. Setelah alat digunakan, semburan akhirnya bisa ditangani. Penanganan semburan juga mendapat dukungan tim penanggulangan bencana dari Pertamina EP,” katanya.

Menurut Myra, saat ini, pihaknya juga masih fokus pada penanganan limbah minyak bercampur material air yang keluar dari semburan tersebut. Hal itu perlu dilakukan karena limbah minyak yang keluar sebelumnya, sudah mulai berdampak pada lingkungan disekitarnya.

”Untuk penanganan limbah kita perkuat tanggul disekitar balongan atau kolam penampungan agar tidak jebol ketika ada hujan deras. Kita juga upayakan membuat jalur khusus untuk aliran air hujan agar tidak masuk ke balongan. Hal itu diperlukan agar balongan tidak cepat penuh ketika ada hujan deras,” sambungnya.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...