Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Konsultan Literasi Kemendikbud Ini Beberkan Pentingnya Gerakan Literasi Sekolah, Begini Penjelasannya

MuriaNewsCom, Grobogan – Jika mau pandai dan banyak pengetahuan biasakanlah membaca beragam jenis buku. Sebab, melalui kebiasaan ini akan banyak manfaat yang bisa didapat.

“Banyak tokoh besar dunia menyatakan, membaca adalah jantungnya pendidikan. Hal ini membuktikan kalau membaca punya peran penting dalam bidang pendidikan,” kata Satria Dharma, konsultan literasi Kemendikbud saat menyampaikan meteri dalam Workshop Gerakan Literasi Sekolah 2018 di Purwodadi, Grobogan, Jumat (23/2/2018).

Menurutnya, budaya membaca dikalangan pelajar sejauh ini memang belum menggembirakan. Untuk itu perlu dorongan banyak pihak untuk meningkatkan minat baca. Selain itu perlu pula pemahaman yang lebih pada siswa tentang pentingnya membaca.

“Untuk mendorong minat baca, Kemendikbud sudah meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah. Melalui program ini, pihak sekolah diminta menyediakan waktu minimal 15 menit buat siswa untuk membaca buku diluar pelajaran sekolah,” cetusnya.

Satria mengatakan gerakan literasi di Indonesia memang harus digalakkan. Salah satu alasannya, dalam beberapa penelitian seperti pada Program for International Student (PISA), skor membaca siswa di Indonesia menduduki peringkat bawah dibandingkan negara-negara lainnya.

“Kondisi ini membuktikan kalau budaya literasi kita masih sangat lemah dan perlu digalakkan,” jelasnya dihadapan sekitar 500 peserta workshop.

Menurut Satria, budaya literasi dinilai sangat penting artinya. Bahkan, bisa jadi salah adalah kunci kemajuan sebuah bangsa.

Konsultan Literasi Kemendikbud Satria Dharma saat menyampaikan materi dalam Workshop Gerakan Literasi Sekolah 2018 di Purwodadi, Jumat (23/2/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh guru di Kabupaten Grobogan, agar tak hanya menjadi pelopor bangkitnya gerakan literasi sekolah saja. Namun, para guru juga diminta mampu menjaga dan terus menumbuhkan minat baca dan menulis dari generasi ke generasi.

“Ada banyak cara untuk melakukan ini. Hanya saja ini perlu dilakukan oleh gurunya dulu. Guru itu harus bisa memberikan teladan buat siswa. Kalau gurunya sudah gemar baca dan menulismaka siswanya pasti akan mengikuti,” imbuh pria asal Surabaya itu.

Satria percaya, gerakan literasi yang sudah diatur dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 itu bisa diwujudkan oleh pemerintah. Dengan catatan, jika semua guru termasuk di Grobogan mampu menjadi pelopor gerakan tersebut. Apabila semua guru menjadi pelopor literasi, otomatis mampu mengajak siswa-siswinya menjadi generasi pecinta literasi.

Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Amin Hidayat menambahkan, workshop gerakan literasi sekolah dilangsungkan selama tiga hari, mulai hari ini hingga Minggu lusa. Menurut Amin, kegiatan yang dilakukan itu, tidak hanya sekadar program tapi merupakan sebuah gerakan yang harus bersinergi antara lembaga pendidikan dengan pihak kompeten lainnya.

Dijelaskan, puncak kegiatan literasi ini akan dilangsungkan pada bulan oktober mendatang. Yakni, acara festival literasi sekolah.

“Dalam kegiatan ini juga ada pengukuhan Relawan Literasi Grobogan. Tugas relawan ini nanti akan merintis kampung-kampung Literasi,” jelasnya, usai membuka workshop.

Ketua Panitia workshop gerakan literasi sekolah 2018 Achmad Bashori menyatakan, kegiatan ini mengambil tema “Implementasi gerakan literasi sekolah untuk mewujudkan Grobogan sebagai Kabupaten Literasi “. Kegiatan itu terlaksana atas kerjasama Dinas pendidikan Kabupaten Grobogan, Forum Silaturahim Sekolah Islam Grobogan  (FOSSIG ) dan Forum Persaudaraan Muslim Grobogan (FPMG).

“Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendukung  Grobogan sebagai Kabupaten Literasi yang telah dicanangkan Bupati sejak tahun 2016 lalu,” ungkapnya.

Menurut Bashori, dalam workshop ini menghadirkan beberapa narasumber nasional yang kompeten dalam bidang Literasi. Antara lain, Satria Dharma dari surabaya, Dewi Utama Faizah dari Satgas GLS Kemdikbud RI, Dharma Sastra dari Tarakan, Ameliasari T Kesuma dari Salatiga, BM Asti dan Kak Erwin NS Pambudi dari Grobogan. Satu lagi adalah Handoko Widagdo, warga Grobogan yang saat ini melakukan program inovasi dan literasi rendah di Kalimantan Utara.

Peserta workshop merupakan perwakilan sekolah dari 19 kecamatan, dari jenjang SD, SMP dan SMA. Peserta satu sekolah terdiri minimal 4 orang dengan maksud agar gerakan literasi ini mampu dilaksanakan oleh sekolah. (NAO)

Editor: Supriyadi

 

Comments
Loading...