Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Hebat! Mahasiswa KKN di Desa Platar Jepara Ini Buat Teh dari Kulit Rambutan

MuriaNewsCom, Jepara – Kulit buah rambutan lazimnya dibuang setelah dikupas. Namun di tangan mahasiswa Universitas PGRI Semarang, kulit tersebut dapat disulap jadi teh.

Inovasi tersebut tercipta saat mahasiswa UPGRIS Semarang mengikuti ‎Kuliah Kerja Nyata (KKN), di Desa Platar, Kecamatan Tahunan-Jepara. Hal itu melihat potensi desa yang banyak ditanami rambutan, namun belum termanfaatkan secara optimal.

Koordinator Mahasiswa KKN UPGRIS Desa Platar Sumini Mina Wati mengatakan, hampir di setiap pelataran milik warga terdapat pohon rambutan. Namun beberapa di antaranya, malah dibiarkan matang tak terambil.

“Katanya kalau makan kebanyakan bikin sakit, batuk-batuk. Padahal dari buah itu banyak manfaatnya, bahkan biji dan kulitnya pun bisa dimanfaatkan sebagai penganan,” ujarnya, ditemui di Posko KKN UPGRIS Desa Platar, Selasa (20/2/2018) siang.

Menurut jurnal ilmiah yang diperolehnya, kulit buah rambutan mengandung beberapa bahan alami yang berguna untuk mencegah hiperkolestrol, diare, menangkal radikal bebas dan sebagai pencegah sel kanker. Hal itu karena, di dalam kulit rambutan terkandung flavanoid sebagai antioksidan dan tanin sebagai penangkal radikal bebas.

Dirinya mengungkapkan, untuk membuatnya tak memerlukan peralatan atau tambahan bahan khusus. Kulit buah rambutan yang telah terkupas dan dicuci bersih, hanya perlu dipotong-potong memanjang kecil-kecil. Lalu dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari langsung.

Setelah kering, ‎kulit rambutan kering tinggal diseduh seperti menyeduh teh, pada umumnya. “Tinggal tambahkan gula sesuai selera, aduk lalu diminum hangat-hangat,” jelas Rosalia Rizki, Koordinator Kewirausahaan KKN UPGRIS Desa Platar.

Sejumlah mahasiswa KKN di Desa Platar, Kecamatan Tahunan, Jepara memperagakan pembuatan teh dari kulit rambutan. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Rizki mengatakan, semua jenis rambutan bisa dibikin teh. Hanya saja pada inovasi tersebut, digunakan rambutan ace. “Semuanya (jenis rambutan, ace, binjai, rafia) bisa dibuat teh. Caranya sama, dipotong-potong kecil lalu dijemur. Namun kalau ‎jenis rafia, rasanya agak sepat,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, teh rambutan buatan mahasiswa KKN telah diperkenalkan kepada warga sekitar. Rosalia mengaku mendapatkan respon positif dari masyarakat Desa Platar.

“Bahkan rencananya akan dipatenkan menjadi minuman khas Desa Platar. Namun nanti akan diperiksa di laboratorium dahulu. Selain itu akan dipatenkan juga dengan nama platea. Setelah ini kami juga akan membuat emping dari biji rambutan,” ungkapnya.

Tim KKN Upgris Desa Platar berharap, kegiatan yang diadakan di desa tersebut akan sedikit banyak membawa perubahan pada ekonomi warga. Mereka berharap agar masyarakat dapat mengembangkan usaha kecil menengah, berbasis potensi lokal.

Ketua TP-PKK Desa Platar Susi Kusumaningtyas mengatakan, kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa KKN Upgris dapat meningkatkan pemasukan warga setempat.

Ida Damayanti warga setempat mengaku telah mencicipi teh kulit rambutan. “Rasanya enak, seperti ada rasa buahnya,” kata dia.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...