Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Melawat ke Pasar Barito Kudus untuk Kali Terakhir

MuriaNewsCom, Kudus – Pasar Bantaran Kali Gelis atau akrab disebut ‘Barito’ dipastikan berpindah ke bekas pasar hewan Kecamatan Jati, pada 1 Februari 2018 mendatang. Lalu bagaimana kondisinya seminggu sebelum dipindah?

MuriaNewsCom, menjejakkan kaki ke Pasar Barito pada Sabtu (27/1/2018) siang. Memasuki kawasan itu, awak media disambut dengan tulisan berlatar warna kuning pada sebuah media MMT.

“PEMBERITAHUAN Mulai TGL 1 Februari 2018 Pasar Barito Pindah Di Pasar Burung Sebelah Selatan RS Mardi Rahayu Tanjung”

Tidak hanya satu, tulisan tersebut terpampang di beberapa titik pasar tersebut. Beberapa pengunjung pun menyempatkan diri melirik pada pemberitahuan tersebut. Sementara pedagang-pedagang Barito nampak melakukan aktifitas mereka sebagaimana biasa, melayani pembeli. Beberapa diantaranya, bahkan sudah mulai berkemas-kemas hendak pulang.

Seperti Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Barito Ali Nor Faiz. Pria berkacamata itu tengah sibuk memberesi dagangan pakaian miliknya, namun warga Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu itu bersedia untuk berbagi cerita kepada MuriaNewsCom.

Ali bercerita, Pasar Barito sudah ada sejak masa kepemimpinan Amin Munajad menjabat sebagai Bupati Kudus. “Wah sudah ada sejak Pak Amin Munajad, saya kalau ditanya tahun pastinya tidak tahu. Tapi sebelumnya pedagang adanya di sepanjang Jl Sunan Kudus, lalu dipindah ke sini (bantaran Kali Gelis),” ucapnya.

Menurutnya, setelah dua tahun dipindah dari tempat awal, pedagang semakin banyak. Begitu pula dengan pembeli. Sampai saat ini, Ali menyebut ada ratusan pedagang, 116 di sisi utara dan 62 di sisi selatan.

Ditanya terkait nama ‘Barito’, Ali mengaku sebutan tersebut berasal dari para konsumen. “Aslinya pasar ini namanya Pasar Bantaran Kali Gelis. Kalau Barito itu karena daganganya rosok (onderdil) mirip dengan jenis dagangan pedagang yang ada di Semarang, jadilah sebutannya Barito sampai sekarang,” kenangnya.

Ia mengaku banyak kenangan yang didapat dari Pasar Barito. Mulai dari saat pertama ia berjualan, hingga saat dimana hasil berdagangnya dapat digunakan menyekolahkan kelima anak-anaknya.

“Alhamdulilah, hasil berdagang disini bisa menyekolahkan kelima anak saya meskipun hanya sampai sekolah menengah atas,” tuturnya.

Terkait perpindahan pedagang ke Kecamatan Jati, Ali menyebut sudah ada kesepakatan dengan Pemkab Kudus. Oleh karena itu, pihaknya sengaja menempel beberapa pengumuman di titik-titik tersebut.

“Kami sudah diberitahu dan akan patuh, kalau spanduk itu nantinya untuk pemberitahuan konsumen. Biar tahu kalau pasarnya dipindah kesana,” urainya.

Sutirah (50) pedagang onderdil di Barito mengaku, tempatnya kini merupakan jujugan bagi beberapa bakul asal kota lain. Seiring dengan rencana kepindahan ke tempat baru, ia mengaku sudah menyosialisasikannya kepada para pelanggannya.

“Wah kalau sini dijadikan tempat kulakan pedagang dari Jepara, Pati, hingga Semarang. Mereka kesini karena harga yang miring, dijual lagi bisa untung lah,” ungkapnya, yang mengaku mewarisi usaha dagang onderdil dari sang ayah.

Terkait rencana kepindahan, ia sendiri mengaku siap. “Nanti cari hari baik untuk pindah (menempati lapak baru) kesana. Soalnya orang Jawa kan penuh hitung-hitungan. Kalau yang pasti tanggal 1 (februari) akan pindah, namun belum tentu ditempati. Sembari ngusungi barang-barang kesana secara bertahap,” jelasnya.

Pedagang lain Rahmawati mengaku, sejak berjualan di tempat itu sekitar tahun 1998 ia mengaku sudah betah. Bahkan dari hasilnya berjualan pakaian, dapat untuk menguliahkan dua anaknya ke perguruan tinggi.

“Di sini senang banyak temannya, banyak saudara. Mudah-mudahan ditempat baru nanti bisa berkumpul tidak terpisah jauh,” paparnya, sambil meminta mengabadikan kenangan bersama teman-temannya di Pasar Barito.

Terakhir, pedagang-pedagang itu berharap agar di tempat baru rezeki akan semakin berlimpah. Hal itu karena berdagang merupakan denyut nadi perekonomian wong cilik seperti Ali, Sutirah dan Rachmawati.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...