Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kampanye Tak Boleh Didampingi Istri, Begini Reaksi Ganjar Pranowo

MuriaNewsCom, Semarang – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memperingatkan kepada Siti Atikoh, agar tak mendampingi suaminya Ganjar Pranowo dalam berkampanye. Sebelumnya, Bawaslu juga telah memberi teguran, karena Atikoh menemani Ganjar menadftar ke KPU.

Menanggapi hal ini, petahana Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menyebut jika istrinya telah mengajukan cuti tanpa tanggungan sebagai PNS agar bisa menemaninya berkampanye.

“Memang kemarin sempat terjadi kontroversi. Istri saya dipanggil Bawaslu gara-gara ikut mendaftar ke KPU dianggap tidak netral sebagai PNS,” katanya dilansir Antara Jateng.

Menurutnya, Siti Atikoh pasti tidak netral karena mendukung dia untuk maju kembali di Pilgub Jateng. Meski demikian, menurutnya, Siti Atikoh mempunyai etika tersendiri sehingga tak bakal melangkahi aturan.

“Memang istri saya tidak netral, pasti mendukung saya. Tetapi saya kira dia punya etika karena sejak awal melakukan cuti dan akhirnya kemarin sudah muncul surat dari Kemendagri,” ujarnya.

Ia menuturkan, dengan teguran dari Bawaslu Provinsi Jateng terhadap istrinya, pihaknya mencoba menghubungi Kemenpan, Kemendagri, KPU, dan Bawaslu untuk klarifikasi.

“Semua saya telepon, kenapa istri saya tidak boleh mendampingi saya. Konteks netralitas mesti dalam arti luas, kalau mendampingi suami jangan dilarang, karena istri saya cuti di luar tanggungan negara, tidak mikirin pangkat dan gaji,” terangnya.

Baca : Atikoh Dilarang Selfie dan Dampingi Ganjar Kampanye

Ia mengatakan, dengan kasus tersebut saat ini sudah muncul perbaikan, soal netralitas tidak membabi buta.

“Jangan sampai gara-gara pilkada, kandidat ini menjadi sesuatu yang `haram`, saya ini menjadi sesuatu yang haram, mendekat istri kemarin tidak boleh, selfie tidak boleh, apa-apa tidak boleh. Aku menjadi tidak enak banget rasanya, kok berlebihan,” paparnya.

Menurutnya, saat KPU melakukan coklit di rumahnya, ia menyampaikan pada KPU dan Bawaslu tentang unek-uneknya soal kampanye di lembaga pendidikan yang dilarang. “Bayangkan kita kampanye di kampus, berdebatnya malah lebih intelektual,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...