Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Ini Sosok Suswati, Sopir Truk Emak-emak Asal Tunggulrejo Grobogan yang Jadi Viral

MuriaNewsCom, Grobogan – Berita tentang sopir truk emak-emak yang sempat dihentikan polisi ketika menggelar razia, masih saja menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Bahkan, di dunia maya, pemberitaan maupun foto yang diunggah berbagai akun medsos langsung jadi viral.

Sosok emak-emak yang mengemudikan sopir truk ini juga mendapat banyak pujian dari warganet. Terlebih, dalam razia itu, sopir truk bernama Suswati tersebut ternyata punya surat lengkap. Termasuk punya SIM B1 yang sesuai peruntukkannya.

Sopir truk yang bikin simpati ini tinggalnya di Dusun Ngamban, Desa Tunggulrejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Selama ini, perempuan berusia 48 tahun itu sudah sering kali mengemudikan truk.

Sebagai seorang perempuan, daya jelajahnya mengemudikan truk boleh dibilang cukup mencengangkan. Soalnya, ia sudah biasa kirim barang ke berbagai kota seorang diri. Antara lain, Demak, Semarang, Kudus, Blora, Rembang, hingga Bojonegoro.

“Barang yang saya kirim adalah hasil pertanian. Sejak lama, saya memang usahanya dibidang jual beli hasil pertanian. Seperti, jagung, gabah, beras, kacang atau kedelai,” kata Suswati saat ditemui di rumahnya, Sabtu (20/1/2018).

Saat ada razia di jalan raya Wirosari-Kradenan dua hari lalu, Suswati yang mengemudikan truk warna kuning dengan nomor polisi K 1306 MP sedang mengangkut muatan jagung untuk dikirim ke Wirosari. Setelah itu, ia langsung kembali pulang ke rumahnya dan truknya langsung diisi muatan beras untuk dikirimkan ke Demak.

“Saat panen seperti ini, memang saya cukup sibuk. Hampir tiap hari saya bepergian ke luar kota untuk kirim barang,” jelas ibu dua anak itu.

Rumah Suswati terlihat cukup sederhana. Modelnya berbentuk limasan memanjang ke belakang. Bagian depan yang berlantai tanah, sebagian dipakai untuk ruang tamu dan garasi. Kemudian bangunan tengah untuk rumah utama dan paling belakang difungsikan untuk gudang.

Di dalam garasi ada satu truk. Sedangkan di depan rumah ada dua truk lagi. Satu truk yang sebelumnya dipakai Suswati saat ada razia kemarin, sedang diisi muatan beras. Sedangkan satu kendaraan lagi jenis truk engkel baru kondisinya kosong.

Sebelumnya, pengiriman barang dagangan dilakukan suaminya Suwanto (52). Terkadang juga ditangani anak pertamanya Muhammad Fauzi. Selain itu, anak keduanya Muhammad Makhrus juga mulai membantu, selepas taman SMK dua tahun lalu.

Suswati bersama suaminya Suwanto dan anak bungsunya Muhammad Makhrus saat ditemui di rumahnya di Dusun Ngamban, Desa Tunggulrejo, Kecamatan Gabus, Sabtu (20/1/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Awal mula Suswati berani mengemudikan truk sendiri karena terpaksa. Kebetulan, suami dan anaknya sedang mengantarkan barang ke luar kota. Sedangkan, saat bersamaan ada order pengiriman barang dari koleganya di luar kota. Setelah dapat izin suami, Suswati akhirnya nekat mengirimkan barang sendiri.

“Jadi, satu rumah ini kebetulan bisa nyopir semua. Kebetulan, waktu itu lagi sibuk semua dan cari sopir pocokan gak dapat. Akhirnya, saya kirimkan sendiri dan sejak itu jadi terbiasa sampai sekarang. Waktu itu, belum pakai truk tapi masih colt pikap tua,” cetus perempuan yang sudah punya seorang cucu itu.

Suswati mengaku sudah bisa mengemudikan kendaraan roda empat sejak lama. Yakni, beberapa tahun setelah menikah. Kepandaiannya mengemudi diajari suaminya sendiri.  Awal belajar masih pakai colt pikap dan kemudian berlanjut mengemudikan truk. Pada tahap belajar, Suswati hanya mengemudikan kendaraan dijalan desanya dan biasanya dilakukan malam hari.

Baca : Gelar Razia, Polisi di Grobogan Kaget Ada Emak-emak jadi Sopir Truk

Meski biasa bepergian ke luar kota, namun suami dan anak-anaknya tidak merasa khawatir. Soalnya, mereka percaya dengan kemampuan Suswati dalam mengemudikan kendaraan berat yang membawa muatan. Tak lupa, doa untuk kelancaran dan keselamatan saat bekerja juga selalu dipanjatkan.

“Sebelumnya, kan sudah saya ajari lama. Jadi, saya berani berikan izin ketika mau antar barang ke luar kota. Kalau tidak ada acara bersamaan, biasanya saya atau anak-anak yang mendampingi mengirim barang. Anak saya yang bungsu sudah biasa antar barang sampai Lampung. Sedangkan anak pertama sudah menikah dan tinggalnya di Desa Banjardowo, Kecamatan Kradenan dan biasanya juga ikut mengantar barang kalau pas tidak ada kesibukan,” imbuh Suwanto.

Aktivitas pengiriman barang ke luar kota biasanya terjadi saat mendekati panen raya. Jika musim kemarau, pengiriman barang ke luar kota hanya dilakukan sesekali.

Meski demikian, bukan berarti mereka beritirahat usaha. Saat kemarau datang, kesibukan keluarga ini berganti. Yakni, jualan air bersih yang ditempatkan dalam tangki penampungan dan dipasang dibak truk.

“Kalau kemarau, kita ganti sibuk jualan air. Didaerah sini, kalau kemarau sulit mendapatkan air bersih,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...