Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

16 Kecamatan di Grobogan Rawan Banjir

BPBD Grobogan melangsungkan rakor penanggulangan bencana dengan berbagai instansi terkait, Kamis (23/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobgan makin meningkakan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana banjir. Hal itu dilakukan karena hampir semua wilayah kecamatan punya potensi terhadap datangnya bencana banjir.

”Dari 19 kecamatan yang ada, sebanyak 16 kecamatan rawan banjir. Sedangkan Kecamatan Gabus, Toroh, dan Kradenan tidak masuk dalam data rawan banjir,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Budi Prihantoro, usai menghadiri acara rakor penanggulangan bencana, Kamis (23/11/2017).

Ancaman banjir tersebut bisa berdampak cukup besar. Setidaknya, ada 30.588 kepala keluarga (KK) yang bisa terkena dampak jika terjadi banjir.

Menurut Budi, rawannya wilayah di 16 kecamatan terhadap bencana banjir disebabkan banyak hal. Antara lain, adanya kiriman air dari kawasan dua pegunungan yang mengapit wilayah Grobogan. Yakni, Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan.

”Kondisi banjir bisa terjadi jika curah hujan dikawasan pegunungan sangat tinggi. Karena volume air banyak maka tidak bisa tertampung ke sungai dan akhirnya meluap ke perkampungan penduduk. Wilayah yang rawan banjir kebanyakan berada di sekitar aliran sungai besar,” jelasnya.

Selain banjir, ada juga potensi terhadap terjadinya bencana longsor. Daerah yang rawan longsor antara lain, Desa Katekan dan Tegalsumur di Kecamatan Brati. Kemudian, Desa Sumberjatipohon dan Lebengjumuk di Kecamatan Grobogan), Desa Dokoro (Wirosari). Kelima desa tersebut berada di kawasan Pegunungan Kendeng Utara.

Selanjutnya, ada tiga desa di kawasan Pegunungan Kendeng Selatan yang juga dipetakan rawan longsor. Yakni, Desa Nampu (Karangrayung), Desa Kapung (Tanggungharjo), dan Desa Deras (Kedungjati).

”Dampak longsor ini tidak separah jika terjadi banjir. Soalnya, potensi longsor terjadi di sekitar kawasan yang terdapat aktivitas penambangan galian C. Meski demikian, hal ini tetap jadi perhatian,” terang Budi.

Ia menambahkan, informasi yang diterima dari BMKG, intensitas hujan di Grobogan dan sekitarnya cukup tinggi dalam beberapa pekan mendatang. Kondisi itulah yang menjadi salah satu pertimbangan untuk meningkatkan kewaspadaan karena potensi bencana bisa berawal dari tingginya curah hujan.

”Dalam penanganan bencana tidak bisa dilakukan dari BPBD saja. Kami berharap keterlibatan semua pihak untuk ikut bekerjasama untuk penanggulangan bencana ini,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...