Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Gelandangan jadi Pengusaha Kuliner Sukses

1.853
Slamet sedang menjajakan daganganya di warungnya di Panjang, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

MuriaNewsCom, Kudus – Siapa sangka, semangatnya yang membara mampu mengubah kondisi jadi lebih baik. Dulu pernah hidup menggelandang. Setiap hari, tidur di terminal Terboyo Kota Semarang. Adalah Slamet Riyadi. Kini, dia menjelma jadi pengusaha kuliner khas Lamongan, Jawa Timur.

“Dulu saya tidur di terminal. Sekitar tahun 2000. Pada bulan Agustus,” kata Slamet Riyadi membuka percakapan.

Slamet kala itu kali pertama merantau ke ibu kota Jawa Tengah. Niatnya, ingin jadi orang yang sukses. Karena tak punya kerabat di Semarang, Slamet memilih tidur di tempat mana saja. Terminal pun jadi pilihannya.

Setiap waktu malam tiba, Slamet rebahkan tubuhnya di sudut terminal. Seperti di musala, atau lainnya. Begitu siang tiba, Slamet kerja. Beruntung, dia diterima kerja sebagai pelayan di warung makan Padang Siti Aminah. Dengan gaji seadanya. 

Berangkat dari situ, nasibnya mulai membaik. Terutama saat Slamet pindah tempat kerja. Sejumlah warung makan mengizinkan karyawannya tinggal di mes atau kamar khusus. Akhirnya, Slamet pun tak lagi tidur di sembarang tempat.

 

Slamet berada di depan warungnya di Panjang, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

Kini, dia membuka warung sendiri. Dengan mengantongi pendapatan Rp 600 ribu per hari. Ditemui di warungnya di bilangan Lingkar Utara Panjang, Kabupaten Kudus, Slamet menceritakan, usaha makanan itu ditekuninya sejak 2004 akhir di Semarang. Dengan modal awal Rp 5 juta. 

Modal itu hasil dari utang kepada teman. Mulanya, usaha dijalankan di area Indraprasta, Kota Semarang. “Ingat sekali, dulu waktu nyari modal jualan aku harus utang ke teman. Uangnya dipakai untuk beli bahan-bahan utama, seperti gerobak, tenda terpal, kompor, dan lainnya,” kenang pemilik usaha kuliner MTV Barokah itu saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Rabu (22/11/2017).

Setelah melakukan berbagai persiapan, pria asal Rembang ini mencoba peruntungannya dengan menjajakan makanannya di pinggir jalan. Berdua dengan seorang teman. Slamet berhasil menjajakan makanannya laris manis.

Hal itu tak lepas dari sosoknya yang telah berpengalaman menjadi pelayan warung makanan serupa selama lima tahun. Ditambah lagi, hari pertama jualan di Semarang, Slamet turun ke jalan dan kampus di sekitar lokasi jualan, untuk menyebar publikasi.

Hari-hari selanjutnya, Slamet teruji menjadi pengusaha kuliner Lamongan sukses. Pendapatannya sekitar Rp 700 ribu per hari. “Lokasi jualannya kebetulan bekas tempat dagang mantan bosnya dulu,” kata Slamet. 

Lokasi jualannya itu dikontraknya Rp 200 ribu per bulan. Waktu jualannya dari pukul 17.00-24.00 WIB. Setiap hari warung beroperasi, kecuali saat kondisi tubuh lelah. 

Usahanya makin laris dan berkembang pesat. Saat itu, kakaknya yang tinggal di Rembang, ditawari untuk mengelola warung tersebut. Sang kakak pun bersedia. Hingga sekarang, sang kakak berhasil memajukan usaha. Dengan omzet per hari Rp 1,2 juta.

Lantas, Slamet pindah ke Kudus, bersama istri, Yunita. Di sinilah, Slamet memulai uji kemampuannya sekali lagi. Dengan modal Rp 15 juta, yang merupakan sisa hasil jualan selama di Semarang.

Uang tersebut dipakai untuk menyewa satu kios, dan membeli berbagai peralatan usaha kuliner Lamongan, dengan nama MTV Barokah. Di tempat yang baru, pria tiga bersaudara mendulang sukses di minggu pertama, dan kedua berjualan.

Di minggu selanjutnya, penjualan menurun drastis. Dia menduga, itu karena pelanggan awalnya hanya mencoba. Begitu seterusnya, penjualan mulai berjalan standar. “Babat alas (merintis dan mengenalkan usaha) di Kudus setahun,” ucapnya.

Baru di tahun berikutnya sampai sekarang, penjualan meningkat drastis. Di Kudus, Slamet membuka warungnya siang hingga sore hari. Hal itu berbeda dengan usahanya di Semarang, yang beroperasi dari sore hingga larut malam.

Setiap hari, ratusan pembeli berjubel membeli makanannya. Terutama saat jam makan siang. Menu yang jadi pilihan pelanggan, di antaranya tempe dan tahu penyet, ayam penyet, lele, dan telur. Harganya berkisar Rp 5 ribu untuk seporsi nasi tempe, lele Rp 8 ribu, ayam Rp 15 ribu, ati ayam Rp 6500, dan telur Rp 5.500.

Editor : Supriyadi

Ruangan komen telah ditutup.