Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Petaka Mempermasalahkan Beda Kasta Tampak di Pementasan Teater Keset Kudus

1.043
Salah satu adegan di pementasan Teater Keset di Kudus, Sabtu malam. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

MuriaNewsCom, Kudus – Mempermasalahkan perbedaan kasta di Bali, kadang bisa membutakan akal sehat. Sampai semua itu harus mengorbankan diri, mengorbankan cinta, hingga mengorbankan segalanya.

Itu tampak dalam pementasan teater Kelompok Segitiga Teater (Keset) Kudus, dengan naskah Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya, di Universitas Muria Kudus, Sabtu (18/11/2017) malam.

 

Salah satu adegan di pementasan Teater Keset di Kudus, Sabtu malam. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

“Dia pura-pura saja tidak tahu siapa laki-laki yang selalu tidur dengan dia. Sebab sesungguhnya kami saling mencintai sejak kecil, sampai tua bangka ini. Hanya kesombongannya terhadap martabat kebangsawanannya menyebabkan dia menolakku, lalu dia kawin dengan bangsawan, penghianat itu, semata-mata hanya soal kasta. Meninggalkan tiyang yang tetap mengharapkannya. Tiyang bisa ditinggalkannya, sedangkan cinta itu semakin mendalam.”

Cuplikan dialog salah satu tokoh Wayan, menjadi salah satu bukti, mempersoalkan perbedaan kasta menjadi penghalang perjalanan cinta. Tingginya kasta, lantas menyombongkan diri, menjadi hal yang dipegang erat janda tua Gusti Biang, di pementasan itu.

 

Salah satu adegan di pementasan Teater Keset di Kudus, Sabtu malam. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

Kultur sosial di Bali tentang membeda-bedakan kasta, agaknya menjadi kegelisahan Putu Wijaya. Maka dengan lantang, penulis menentang melalui naskah karya sastranya. Karena, cinta yang berujung pada pernikahan suci akan lebih baik, ketimbang terjebak pada kasta yang berujung pada kesombongan.

 “Saya pernah bertemu dengan Putu Wijaya. Dia mengatakan jika naskah ini dilatarbelakangi oleh adanya pertentangan perkawinan, hanya gara-gara beda kasta,” kata sutradara Jessy dalam diskusi usai pementasan.

Kisah lakon ini diceritakan terjadi di Tabanan Bali. Adalah, Gusti Biang, janda almarhum I Gusti Rai, seorang bangsawan yang dulu sangat dihormati karena dianggap pahlawan kemerdekaan. Gusti Biang tinggal bersama dengan Wayan, seorang lelaki tua yang merupakan kawan seperjuangan I Gusti Ngurah Rai, dan Nyoman Niti, seorang gadis desa yang selama kurang lebih 18 tahun tinggal di puri itu.

Sementara putra semata wayangnya, Ratu Ngurah, telah bertahun meninggalkannya karena sedang belajar. Sikap Gusti Biang yang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia berdasarkan kasta, membuatnya sombong dan memandang rendah orang lain.

Gusti Biang ingin anaknya, Ngurah, menikah dengan wanita yang satu kasta. Bukan dengan Nyoman yang berasal dari kasta Sudra. Sikap itulah yang dipegangnya. Meski harus diakui, dulu Gusti Biang rela mengorbankan cintanya dengan Wayan, hanya karena menikah dengan I Gusti Rai. 

Pementasan sendiri berjalan apik. Sutradara berhasil menyuguhkan budaya Bali di atas panggung. Seperti tata panggung bangunan yang memperlihatkan bangunan pada umumnya Pulau Dewata. 

Editor : Akrom Hazami

Ruangan komen telah ditutup.